Senin, 22 Januari 2018

Duh, Kader

Ditulis berdasarkan pengalaman pribadi, Menulis untuk refleksi diri, berbagi untuk peduli. Penulis juga termasuk kader manja. Sehingga yang ditulis pun bisa menjadi sarana muhasabah pribadi.
Perjalanan dakwah bukanlah perjalanan yang banyak ditaburi oleh kesenangan melainkan perjalanan panjang yang penuh tantangan dan rintangan.
Telah banyak kita dapati sejarah orang-orang terdahulu yang merasakan perjalanan dakwah ini. Ada yang disiksa, ada pula yang diusir dari kampung halamannya dan ada pula yang harus meninggalkan kerabatnya.
Mereka telah merasakan dan  membuktikan cinta dan kesetiaan mereka terhadap dakwah. Pengorbanan yang telah mereka berikan dalam perjalanan dakwah ini menjadi suri teladan bagi generasi sesudahnya. Karena kontribusi yang telah mereka berikan, maka dakwah ini tumbuh dan generasi berikutnya memanen hasilnya. Hanya kesetiaanlah yang dapat mempertahankan perjalanan dakwah ini. Kesetiaan yang menjadikan pemiliknya sabar dalam menghadapi ujian. Menjadikan mereka optimis menghadapi kesulitan dan siap berkorban. Kesetiaan yang menghantarkan untuk berada pada barisan terdepan dalam perjuangan ini. Kesetiaan yang membuat pelakunya berbahagia dan sangat menikmati beban hidupnya.
Sebaliknya orang-orang yang rentan jiwanya dalam perjuangan ini tidak akan dapat bertahan lama. Mereka mengeluh atas beratnya perjalanan yang mereka tempuh. Mereka pun menolak dengan berbagai macam alasan agar mereka diizinkan untuk tidak ikut hadir di dalamnya. Mereka pun berat hati berada dalam perjuangan ini, penyakit telah menyerang mental mereka, dan akhirnya berguguran satu persatu sebelum mereka sampai pada tujuan.
Perjuangan yang dirintis oleh orang-orang yang alim, diperjuangkan oleh orang-orang yang ikhlas, dimenangi oleh orang-orang pemberani, dan akhirnya dinikmati oleh para pengecut. Itulah realitasnya. Tak dipungkiri banyak para aktivis atau kader yang bermental buih, banyak tapi tak memiliki kekuatan apa-apa. Terbawa ombak, terombang-ambing dalam keraguan. Padahal peran-peran kosong menganga didepannya namun tak mau dan tak mampu dimanfaatkan.  Sehingga akan kehilangan momentum untuk berubah kearah yang lebih baik lagi.
Beginikah seorang kader?
Duh Kader,,,
Maunya di mengerti, tapi tak mau mengerti, Maunya diperhatikan, tapi tak mau memperhatikan, Maunya selalu mendapat, tapi enggan memberi, Maunya dihargai, tapi tak mau menghargai
Duh Kader,,,
Selalu enggan datang rapat. Kalaupun datang, ucapnya afwan “TELAT”. Merasa paling berkontribusi, tapi lupa diri. Bahwa yang diperbuat tak berarti. Datang acara, hanya event-event tertentu.  Masalah pribadi jadi masalah lembaga. Harusnya memikirkan umat, tapi sibuk masalah internal yang dibuat buat.
Duh Kader,,,
Ingin ini, ingin itu tapi tak mau bergerak. Hanya bisa berteriak, sampai suara serak.
Senangnya mengkritisi, tapi tak memberi solusi, Panjang lebar berdiskusi, tapi tak ada aksi. Inginnya selalu instan, ingin dapat jabatan , ingin terlihat mapan. Kalau tidak berhasil ya menjauh dari  perkumpulan.
Duh Kader,,,
Kajian-kajian dihadiri hanya sebisanya saja, banyak alasan ini dan itu, Padahal di sanalah menjadi bagian sarana utama “mengisi” diri. Ketika diajak diskusi atau kajian keilmuan maka ia menjadi orang yang malas atau berat untuk hadir. Jelas saja karena kini yang ada di kepala mungkin kebanyakan mereka hanya soal lawan jenis ikhwan dan akhwat.
Duh Kader,,,
Buku-buku referensi dakwah pun enggan di sentuh apalagi dibaca Alasannya berat, lantas bagaimana mungkin bisa menjalankan agenda agenda dakwah secara benar sedangkan tujuan, konsep  tentang dakwah itu sendiri belum jelas dimasing-masing kepala pengusungnya. Benar nyatanya yang bergerak hanya sebatas perasaan, insting yang tidak jelas kemana tujuannya. Para kader dakwah melaksanakan hanya sebatas tuntutan program kerja
Duh Kader,,,
Ketika diberi amanah dijalankan semaunya dan seadanya, dicari hanya yang sesuai kepentingan pribadi, mengambil hanya yang mudah-mudahnya saja, Sukanya merengek meminta istirahat, padahal dakwah tak pernah berhenti. Seringnya terkena virus muntaber (mundur tanpa berita). Sukanya dengan buku cinta-cintaan tanpa mengaplikasikan cinta kepada Allah, Rasulullah beserta keluarganya. Hanya cinta kepada lawan jenis saja yang dipikirkan.
Duh Kader,,,
Landasan mu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tapi...Apakabar dengan Al-Qur’an mu?
Apakabar dengan hafalan mu? Bagaimana bacaan Qur’an mu? Bagaimana  tulisan huruf demi huruf Qur’an mu? Tidak kah malu dengan anak balita yang hafal Qur’an?

Saya sedikit mengutip tulisan dari buku Quantum Tarbiyah yang di tulis oleh Solikhin Abu Izzzudin, bab bagian “Please deh jangan jadi kader muallaf”
“Barang siapa bersantai-santai saat bekerja, maka ia akan menyesal saat pembagian upah” (Abdullah Azzam).
Kader Muallaf? Memang ada? Ada. Kader muallaf yang perlu diurus. Bukan baru masuk islam atau baru ngaji, bukan! But, stok lama yang tak segera meng-upgrade diri. Sayang. Tilawah tak menggugah, bacaan tak bertambah, wajah kuyu tanpa gairah. Namun, kalau bicara nikah sangat bergairah tapi bicara dakwah ia ogah. Yah begitulah. Maaf bila saya bikin istilah kader muallaf. Ini terinspirasi oleh kondisi kader stok lama yang tak banyak berubah. Ia bukan orang baru namun seperti baru karena telat melulu.

Tapi kami masih sadar.
Kami seorang kader, yang mampu melakukan perubahan. Punya cita cita yang besar, cita cita yang mulia. Mengambil peran, maju paling depan.
Ketika teman-teman sebaya kami asyik membahas fashion-fashion terupdate. Kami sibuk menabung untuk membeli buku agar tidak kudet.
Ketika teman-teman sebaya kami asyik hangout di mall. Kami malah sibuk mendiskusikan bagaimana caranya agar nikmat islam ini dirasakan oleh semua masyarakat.
Ketika teman-teman sebaya kami asyik memikirkan besok kuliner dimana. Kami malah sibuk memikirkan bagaimana caranya duit terkumpul untuk ongkos agar bisa mengikuti agenda-agenda rapat selanjutnya.
Ketika teman-teman sebaya kami asyik menonton film barat. Kami malah sibuk memuroja’ah hafalan Qur’an.
Terkadang ingin rasanya cuti sebentar dari semua ini. Mengistirahatkan diri sejenak. Bermain-main, berfoya-foya, berhura-hura, kesana dan kesini. Ah, sungguh menyenangkan sekali. Tapi hidup ini lebih berarti dari itu. Hidup ini adalah perjuangan, dan berjuang tidak sebercanda itu. Lelah, lesu, letih tubuh ini di dalam perjalanan. Angin hujan merasuki badan. Namun jiwa harus terus bertahan. Karena perjalanan masih panjang. Tidak pernah ada karpet  merah, ucapan bunga, maupun  tepuk tangan.

Janganlah kita menjadi kader manja, kader yang tidak siap memikul beban, padahal tantangan dakwah semakin berat.
Janganlah menjadi kader manja yang serba tidak siap, serba tidak bisa disuruh apa saja, pokoknya ngga bisa, nggak mau titik!
Saudaraku, sekali lagi kukatakan bahwa sudah saatnya kita berpikir dan bertindak mencetak kader, bukan untuk diri kita semata, agar kebaikan tersebar sambung menyambung kepelosok-pelosok.
Jadilah pejuang dakwah, tidak sekedar penikmat dakwah yang hanya mengambil keuntungan dari dakwah atau hanya menikmati sendiri tarbiyah yang didapatkan.
Jadilah pejuang dakwah, Tidak sekedar memberi dukungan atau sepakat dengan dakwah tetapi ikut memperjuangkannnya.
Kita perlu evaluasi diri, apakah yang sudah kita berikan untuk dakwah? Apakah selama ini kita sekedar numpang nikmat hidup di bawah naungan tarbiyah, numpang keren bersama ikhwan dan akhwat fillah, numpang beken dan populer di jalan dakwah atau numpang aman cari posisi di dalamnya?  “ Setiap pekerjaan-pekerjaan besar hanyalah layak dikerjakan oleh orang-orang yang besar pula.” Kata Ust. Anis Matta.
Tak ada cerita lagi bahwa hanya ingin dikader namun sudah saatnya sekarang mengkader. Tidak lagi melulu diberikan suapan ilmu namun sudah saatnya menebarkan ilmu. Tidak lagi menunggu kemenangan namun sudah saatnya mencetak kemenangan. Karena jangan jadi sebagai orang pengecut yang hanya terdiam membisu digerbang peradaban menunggu para pahlawan datang membawa secercah kemenangan. Sudah saatnya jiwa-jiwa ini memberontak dari zona kenyamanan (comfort zone), terlepas dari rutinitas yang itu-itu saja. Lakukanlah breakthrough (terobosan). Agenda-agenda dakwah akan berjalan dengan baik manakala setiap dari mereka para pengusungnya memiliki semangat, Tidak bisa berjalan jika di isi oleh kader-kader manja, slenge’an.
Jangan sampai kita hanya menjadi penghambat dakwah. Bahkan lebih kasar hanya menjadi sampah saja yang menyebarkan bau tidak sedap dalam dakwah. Sebaliknya harus menjadi para penggerak. yang menyalakan cahaya, menghilangkan kegelapan.

Linda Septiani
Bendahara Umum PK IMM FAI

Senin, 20 November 2017

Rasa itu masih ada


Senja tak begitu cerah sore ini. Terkalahkan oleh keberadaan rintik hujan yang sedikit demi sedikit berhasil mengenai jalan. Orang-orang terlihat berlarian menuju tempat yang dapat menaunginya dari sang hujan. Memang tak begitu lebat, namun dapat membuat jas yang dikenakan seorang pegawai kantoran terlihat basah. Ditengah rintik hujan yang damai dan dibawah naungan halte bus yang hamper penuh, aku bergeming. Menatap setiap orangyang tengah berteduh satu atapdenganku. Tatapanku kini tertuju kepada seseorang pemuda jangkung berambut agak ikal. Terlihat dari baju yang ia kenakan, membuatku tersenyum karena waktu hamper petang anak SMA seperti dia belum juga melepas seragamnya, atau bahkan ia belum kembali kerumahnya. Itu semua mengingatkanku akan masa-masa silam yang begitu sulit dan terpaku dibenakku.
Aku hanyalah anak pinggiran yang besar dan tumbuh diantara para pekerja yang tak pernah dipedulikan oleh pemerintah. Bahkan mereka tak pernah sadar, bahwa gedung pemerintah, perusahaan-perusahaan, sampai rumah mereka sendiri pun tak akan pernah berdiri kokoh tanoa bantuan wargakecil seperti kami. Ya, bapakku seorang buruh kuli, sedangkan ibuku seorang pedagang kecil-kecilan. Aku sebagai anak sulung bertanggung jawab atas keberadaan dua orang adikku. Hidup yang apa adanya membuatku menjadi seseorang yang tahan banting. Membuatku menjadi manusia dewasa walau hanya mungkin lebih dewasa dari mereka yang kecukupan. Sampai sekarang satu wejangan yang memantapkan langkahku untuk terus berjuang masih terus kuingat.
“Gas… jangan takut bermimpi untuk jadi orang besar. Walau kau ini terlahir dari bibit orang kecil, tapi babpak yakin kamu ini bibit unggulan yang nantinya bakal jadi orang unggulan juga. Jadi apapun kamu nanti, jangan lupakan orang kecil Gas, karena kamu ini juga dari orang kecil”
Perkataan bapak dibawah rembulan itu bagai penyulut cahaya dalam hidupku. Mulai kutanamkan kuat-kuat dalam jiwaku, kelak aku akan menjadi orang besar. Ya Rabb… kuatkan azzamku ini dan ridhoilah di setiap langkahku.
***
Pagi itu sang surya begitu percaya diri menampakkan batang hidungnya. Awanpun tak mau kalah dengan penampilannya yang begitu menawan. Langit tampak begitu sempurna ditemani kepakan sayap burung yang tengah menikmati indahnya pagi ini. Aku bangga dengan diriku, tinggal selangkah lagi aku dapat menyandang almamater SMA terbaik didaerahku. SMA yang berhasil aku bobol dengan usaha dan sedikit kecerdasanku yang kuturuni dari bapak, ibu, kakek, atukah nenekku, aku tak tau. Yang pasti kali ini semua siswa kelas akhir sedang ricuh membicarakan rencana kedepan mereka. Rangga, teman baikku ingin masuk fakultas management-bisnis guna melanjutkan perusahaan ayahnya. Fikri, teman sebangkuku yang memang terkenal ahli IT ingin melanjutkan studi ipteknya di jepang. Aku bahagia, karena memiliki teman-teman hebat seperti seperti mereka . aku terdiam ketika giliranku yang harus berbagi rencana. Tak ada sedikitpun rasa untuk tidak kuliah. Aku hanya teringat kenanganku dengan adikku suatu malam.
“Mas, kamu ini kan sudah dari SMP ke SMA, terus habis SMA mau kemana?” tanyanya dengan kepolosan khas anak kecil.
“kuliahlah dik…”tukasku penuh keyakinan.
“kuliah??? Memangnya bapak punya uang buat mas kuliah?”
Degg… perkataan itu bagai anak panah yang menghujani hatiku. Bagai petir yang menyambar pikiranku. Sambaran yang berhasil membuatku sadar bahwa aku harus mendapatkan beasiswa. Karena hanya itu yang dapat membuatku terus melangkah dalam meraih ilmu yang kuinginkan. “Ya Izzati… berikanlah anugerahMU disetiap detik perjuanganku.”
Dengan keyakinan dan tekad yang kumiliki, serta usaha dan doĆ” yang selalu kupinta padaNya. Akhirnya aku dapat menyandang status mahasiswa tanpa sepersen rupiah yang harus kukeluarkan. Dan seperti perjalanan kehidupan biasanya. Disinilah aku mulai mengenal rasa yang membuatku bimbang. Rasa tak berdaya didunia ini. Inilah cinta, ya… cinta. Cinta yang tanpa kuhendaki pada seseorang gadis berjilbab lebar nan anggun. Mahasiswi fakultas kedokteran itu mampu membiusku dari pandangannya yang teduh. Namun, walau tak sedikit kumbang yang terpikat oleh keindahannya, ia seolah bunga yang menatap rapat kelopaknya. Enggan berbagi keindahan yang ada. Sikapnya yang begitu cuek membuatnya terlihat berbeda dimata kaum adam, ak terkecuali dimataku. Bahkan dimataku, ia adalah sosok wanita sempurna nan solihah.
“sulit sekali menjadi pendampingnya kriterianya begitu tinggi, segi agama maupun materi pun harus memadai.” Kata seorang pengagumnya suatu saat. Nyaliku mulai ciut untuk mendapatkan hatinya. Karena aku sadar akan seberapa modal yang kumiiki. Walau sekuat tenaga aku menghilangkan rasa itu. Namun rasanya kian tumbuh dan kian membesar seiring seiring berjalannya waktu. Karena keputusasaan akan usaha penghilang rasa itu, akhirnya aku putuskan bahwa rasa ini biarlah terus berada dengan sendirinya. Walau tak pernah kuungkapkan padanya. Ia dapa mengetahui rasaku padanya sebagaimana perkataan salah satu temanku. Tapi sudahlah, biarlah rasa ini akan terus kubawa hingga penghujung perjalananku menjadi mahasiswa. Ya Muqollibal Qulub… andai kata taka da harapan lagi atas cintanya, hapuskanlah rasa ini dari hatiku. Namun andai ada harapan akan cintanya, jagalah rasa ini berada tetap dihatiku. Walau harapan-harapan itu hanya seperti tetesan embun dipagi hari.
***

Hujan mulai reda, malam hari kian larut. Satu persatu orang meniggalkan halte bus yang sempat aku kunjungi. Rembulan nan bintang tak tampak menghiasi langit malam. Hari terasa semakin gelap ketika kususuri jalan setapak yang sering kulalui hanya uuntuk sekedar melepas penat. Satu kebiasaan yang tak pernah kutinggalkan, karena bagiku jalanan malam menawarkan begitu banyak fantasi-fantasi kehidupan yang dapat menenangkan fikiran. Setenang hidupku kali ini. Lihatlah bapak, aku adalah anakmu, anak seorang buruh kuli. Lihatlah ibu, aku adalah anakmu anak seorang pedagang. Namun, kini aku yakin, senyuman kini telah menghiasi wajah mulia kalian. Wajah yang dulu selalu tersenyum ketika aku berdiri tegak meraih harapanmu. Wajah yang selalu menangis ketika aku tak berdaya. Tangan kalian, tangan yang selalu menghapus air mataku ketika aku menangis. Tangan yang selalu memberiku pelukan hangat ketika ku terjatuh. Namun terkadang aku mengutuk waktu karena terlalu cepat memisahkan kita. Bahkan aku mengutuk ruang yang telah membedakan kita diruang yang berbeda. Namun yang pasti… saksikanlah ayah…
Telah aku buktikan bahwa aku, bagas prayoga seorang anak buruh kuli, seorang anak pedagang telah menjadi generasi hebat dambaan umat, generasi penggugah semangat. Seorang motivator, penulis, sekaligus direktur yang terlahir dari Rahim orang kecil. Seseorang yang sukses dari keterbatasan. Kesuksesan yang berangkat dari mimpi, tekad, usaha do’a, dan keyakinan bahwa aku pasti bisa. Dan kini rasa itu masih ada…

~MUHAMMAD GHAZY RAZAN~
1 A PAI

Sabtu, 27 Mei 2017

(Dakwah)Apa istimewanya?

Pertanyaan itulah yang memenuhi benak saya ketika mulai diperkenalkan dengan suatu “makhluk” yang disebut DAKWAH. Maklumlah karena tujuan utama saya jauh-jauh dari kabupaten ke Kota tangerang ini adalah kuliah untuk bekal mendapatkan pekerjaan mapan dan menjadi seseorang yang karirnya melejit sukses. Tak ada hal lain yang menghampiri pikiran saya selain bagaimana saya dapat mencapai tujuan saya tersebut. Tapi kemudian pikiran saya berpikir keras ketika suatu “makhluk” yang dipekenalkan oleh “si” Tarbiyah dengan nama Dakwah itu mulai menghampiri, mendekati bahkan merayu saya.
Dakwah???
Apa pentingnya?
Apa istimewanya?
Saya mulai berpikir…
Apakah iya dakwah merupakan suatu keharusan bagi setiap orang Islam? Haruskah sebagai seseorang yang mengaku beragama Islam (Muslim/Muslimah) bergabung dalam barisan dakwah? Jika dengan saya shalat, mengaji dan puasa ramadhan saja sudah cukup untuk saya menyandang gelar sebagai Muslim yang baik serta taat. Buktinya? Tak sedikit orang-orang di sekeliling saya yang mengatakan dan memuji bahwa saya anak yang shalih/shalihah.
Beragam pemikiran yang terlintas dalam otak saya itu pun mulai membuat saya tak tenang dan tak nyaman serta mendesak untuk mendapatkan jawaban. Ternyata pendekatan “makhluk” itu tak main-main.
Dakwah mulai merayu!
“Makhluk” itu tetap berdiam dalam pikiran saya. Sekarang tak hanya mendekat melainkan “dia” mulai merayu saya untuk ikut bersamanya, menjadi followernya. Dalam hati saya bertanya: kenapa “makhluk” ini tetap berputar di kepala saya serta membuat hati ini tak tenang? Mengganggu setiap gerak saya? Sehingga saya coba untuk bernegosiasi dengannya.
Percakapan dalam diri itu pun dimulai!
Oke, pertama, kenapa saya harus ikut dalam barisan dakwah? Saya berpikir sejenak…
satu menit,…
dua menit,….
tiga menit,…..
kosong!
Kembali saya mamacu kerja otak. Ayolah berpikir ayo temukan jawabannya. Kenapa setiap muslim harus ikut dalam dakwah agama ini? Saya ulang kata-kata ini terus dan terus tanpa berhenti sebelum melintas jawabannya dalam pikiran saya.
Dan…..
Di menit kelima terlintas sebuah hadits Nabi SAW yang sudah sangat popular saya rasa, yakni:
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)
Hadits ini menegaskan bahwa wajib hukumnya bagi seorang pengikut agama Muhammad SAW untuk menyampaikan apa yang dibawa oleh beliau SAW walaupun hanya satu ayat, walaupun Ilmu yang dimiliki masih sangat terbatas. Ini pemikiran pertama yang terlintas dalam benak saya tentang mengapa seorang muslim harus berdakwah.
Oke, Sebagian kecil hati saya mulai tertarik dengan “si” Dakwah, baru SEBAGIAN KECIL. Saya mulai berpikir lagi. Kali ini alasan lain langsung menyerbu otak saya tanpa menunggu dipersilahkan hingga terjadilah dialog ini.
Hei, bukankah dengan dakwah ilmu kita menjadi lebih bermanfaat?
Inget ga Perkataan Rasulullah SAW? Pertanyaan itu terngiang dalam diri saya.
Iya, Rasulullah SAW pernah bersabda: “Apabila seseorang itu meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak yang shalih mendoakan untuknya.” (Abu Hurairah)
Ooohh Jadi kalau ilmu saya mau lebih dimanfaatkan maka saya harus mengajarkannya pada orang lain. Dakwah-lah salah satu sarananya.
Belum sempat otak saya beristirahat barang sejenak, perkataan Baginda Rasulullah SAW yang lain segera menyambut.
“Barangsiapa yang berdakwah kepada petunjuk (kebaikan) maka dia mendapatkan pahala seperti pahala yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
Subhanallah saya bisa mendapatkan bagian pahala dari orang yang saya dakwahi bila orang tersebut melakukannya. Jika saya melakukan ibadah itu sendiri maka saya dapat satu pahala, tetapi bila saya menyeru orang lain untuk melakukan ibadah itu juga maka saya mendapat pahala darinya. Jika ia satu orang maka saya mendapat 2 pahala, (dari sendiri dan dari satu orang yang saya seru) lantas jika ada 100 orang? Saya akan mendapat 100 kali lipat pahala suatu ibadah tersebut. Subhanallah pahala yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang mau berjuang di jalan Dakwah-Nya. Betapa Pemurahnya Dia.
Tertampar Hati ini dan Mengalir air mata ini…
Oh Allah kemana saja hati dan pikiran hamba selama ini? Hingga tak terpikirkan betapa pentingnya berjuang di jalan dakwah-Mu. Hamba selalu merasa cukup hanya dengan shalat, cukup hanya dengan mengaji dan cukup hanya dengan puasa ramadhan, padahal hamba juga tak yakin apakah amal-amal yang telah hamba lakukan engkau terima dan beri pahala atasnya atau bahkan tak berarti apa-apa bagi-Mu. Begitu sombongnya hamba selama ini sehingga tak menyadari betapa banyaknya amal-amal lain yang belum hamba tunaikan di Dunia yang hanya menjadi tempat bersinggah sebentar ini. Terlalu bangganya hamba selama ini terhadap diri, sehingga mata hamba seakan tertutup dan tak melihat betapa banyaknya orang lain di luar sana yang beramal dan berjuang jauh sangat jauh dari apa yang hamba lakukan. Mengapa baru sekarang hamba sadar begitu sedikitnya bekal yang hamba telah siapkan. begitu sedikitnya sehingga hamba pikir tak akan sampai perjalanan hamba ke surga-Mu yang abadi.
Dakwah! “Kau” berhasil meluluhkanku!
Dimulai dengan bergabung dalam organisasi LDK (Lembaga Dakwah Kampus) hari-hari telah saya lalui dengan aktivitas-aktivitas dakwah. Aktivitas yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, bahkan ketika saya ikut rohis SMA dulu. Ruhiyah saya semakin terisi oleh cahaya-Nya. Berbagai kepanitiaan acara telah saya jalani dengan antusias dan penuh keikhlasan Insya Allah. Tak henti saya mengucap syukur pada-Mu ya Allah yang telah membuka jendela hidayah di kamar hati hamba. Begitu banyak hal yang hamba dapatkan dalam barisan dakwah ini.
Hamba rasakan manisnya ukhuwah di antara kami sesama pejuang agama-Mu,
Hamba rasakan kehadiran dan sentuhan Cinta-Mu,
Hamba rasakan kasih sayang kekasih-Mu. Utusan-Mu Rasulullah Muhammad SAW yang karena perjuangannya, kesabarannya, luka-lukanya, keikhlasannya, ketabahannya, kekuatannya, cintanya serta cucuran air mata rindunya pada kami umatnya yang hidup jauh setelah beliau pergi, dan wahai Allah Engkau tau kami-pun merindukan beliau SAW yang senatiasa kami berharap dapat melihat wajah teduhnya dan bersamanya di Jannah-Mu kelak.
Seperti yang digambarkan dalam firman Allah “Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun, dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah; 9:128)
Tak ingin rasanya saya meninggalkan barisan ini karena sudah terlanjur cinta. Meneruskan perjuangan dakwah Rasulullah. Begitu banyak karunia-Nya yang saya dapatkan melalui dakwah ini. Dan saya selalu berdoa:
“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia).” (QS.Ali ‘Imran: 8)
Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu.
“Dakwah bukan suatu hal yang Penting apalagi Istimewa! Karena Dakwah adalah lebih dr sekadar penting dan istimewa. Dakwah adalah nadi agama Islam, yang harus senantiasa kita denyutkan. Dakwah adalah nafas bagi kita yang meyakini Islam sebagai agama, ridha Allah sebagai Tuhan Yang Esa, Muhammad nabi dan utusan-Nya. Dakwah adalah makanan pokok bagi hati dan keimanan kita.”
Tanpa dakwah akan terasa hampa hidup kita,
Tanpa dakwah tak akan pernah kita rasakan ukhuwah yang begitu mesra dan indah,
Tanpa dakwah takkan kita rasakan perjuangan Nabi dan sahabat dulu dalam memperjuangkan agama ini, memperjuangkan tegaknya kalimat Allah di bumi ini,
Tanpa dakwah takkan kita sadari kehadiran dan cinta-Nya kepada hamba-hamba yang menolong agama-Nya,
Tanpa dakwah kita bukanlah apa-apa dan bukan siapa-siapa.
Tanpa dakwah kita tak tahu artinya Cinta.
Karena Sejatinya Dakwah adalah Cinta (Seperti ungkapan seorang Murobbi).
Sekian semoga bermanfaat..
Wassalamu’alaikum
Oleh : Rd Maftuh
Ketua PK IMM BIDANG KEILMUAN
#PKIMMFAI
#SALAMFASKHO

Tak Hanya Bela Sungkawa

Akhir-akhir ini, tragedi kemanusiaan banyak terjadi Indonesia. Diantaranya adalah kasus sengketa tanah di karawang, yang melibatkan petani dan PT. Pertiwi Lestari. Menurut informasi di fanspage karawang.id; Konflik agraria Karawang sejak 1974 tersebut membuktikan bahwa mendesaknya pengakuan hak-hak masyarakat atas tanahnya oleh BPN. persoalan mendasarnya adalah perusahaan yang menklaim kepemilikan lahan tak punya alas hak atas tanah seluas 350 Ha yang telah dimanfaatkan masyarakat sejak 1958 bersamaan dengan lahirnya UU No 1 tahun 1958. Tanah diberikan kepada penduduk yang mempunyai hak usaha atas tanah itu dengan hak milik dan pemberian hak milik kepada rakyat dengan cuma-cuma, dan dipertegas lagi dengan lahirnya UUPA No 5 Tahun 1960. Artinya, tanah yang dikelola petani karawang sejak lama itu telah menjadi hak milik, walau hanya hak untuk mengelola, berdasarkan UU no 1 tahun 1958 tentang penghapusan partikelir tanah.
Namun pemerintah menghinati hukum yang dibuatnya sendiri, tanah yang tak bertuan seharusnya dapat dikelola oleh yang telah menempatinya terlebih dahulu. Merujuk kepada agrarische wet yang dibuat tahun 1870 di Indonesia oleh menteri jajahan Engbeltrus de wall, yang salah satunya bertujuan untuk melindungi hak petani atas tanahnya dari penguasa dan pemodal asing. Namun realitas objektif di karawang, PT. Pertiwi Lestari telah menggusur lahan itu dan dibangun pagar beton serta jalan aspal, petani pun kehilangan mata pencaharian dan tempat tinggalnya.
Inilah namanya penindasan atas dalih legalitas kepemilikan tanah, yang melangkahi nama “kemanusiaan”. Sebagai aktifis mahasiswa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, langkah terbaik adalah bergerak dan melawan penindasan terhadap kaum mustadhafin. Setelah kakanda di Pemuda Muhammadiyah dengan cepat membentuk Satgas Advokasi untuk petani karawang,dan melakukan aksi lewat jalur hukum, sekarang saatnya kita sebagai adinda IMM bergerak. Minimal atas nama “kemanusiaan” hati kecil kita tergugah untuk melaksanakan penggalangan dana untuk mereka yang sedang mengungsi di Jakarta.
Tak hanya sekedar ucapan bela sungkawa, yang diperlukan mereka yang ditindas adalah aksi sosial kita. Mereka yang miskin, justru menghidupi mereka yang kaya, Ini logika sinting yang membudaya. Maka, kami Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah mengajak kepada seluruh Pimpinan Komisariat yang ada di Kota Tangerang untuk menggalang dana di internalnya masing-masing. Hidup kaum mustadhafin!... Hidup Petani!... Hidup Rakyat Indonesia!... IMM semoga tetap jaya.

Oleh : Rizqi Wijaya
Ketua PK IMM BIDANG ORGANISASI
#PKIMMFAI
#SALAMFASKHO

MENGENANG HEROISME PERTEMPURAN LAUT -Kisah Yos Sudarso dan Muhammad Al-Fatih-

Yang pertama, berasal dari pertempuran Laut Aru. Sebuah pertempuran melaksanakan misi nan bagian dari Operasi Trikora yang didengungkan oleh sang Proklamator kemerdekaan pada 19 Desember 1961. Isi titah Trikora itu ialah kibarkan Sang saka marah putih di Irian, Gagalkan pembentukan negara boneka Papua oleh Belanda, dan bersiaplah untuk mobilisasi umum guna menjaga persatuan dan kesatuan. KRI Macan Tutul yang melakukan patroli sekaligus misi pendaratan bagi sukarelawan asal Irian ke Kaimana itu berangkat bersama KRI Macan Kumbang dan KRI Harimau, 3 kapal cepat torpedo yang dimiliki ALRI pada masa itu.
Kedua Negara memang sedang bersitegang terkait klaim kepemilikan Papua Barat. Indonesia sejak kemerdekaannya menyatakan bahwa seluruh wilayah Hindia Belanda dulunya, adalah Negara kesatuan Indonesia. Tapi sang seteru menampik bersebab menganggap wilayah itu masih merupakan salah satu provinsi Kerajaan Belanda. Keduanya pun telah bertemu dalam beberapa pertemuan dan berbagai forum internasional. Dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949 misal, Belanda dan Indonesia tidak berhasil mencapai keputusan mengenai Papua bagian barat dan begitu seterusnya hingga hubungan keduanya menegang bahkan berujung konflik bersenjata. Salah satunya: pertempuran Laut Aru yang pecah pada tanggal 15 Januari 1962~sekira 55 tahun lalu, ketika 3 kapal milik Indonesia yaitu KRI Macan Kumbang, KRI Macan Tutul yang membawa Komodor Yos Sudarso, dan KRI Harimau yang dinaiki Kolonel Sudomo, Kolonel Mursyid, dan Kapten Tondomulyo, berpatroli. Di tengah patroli perairan itulah ketiganya dihadang oleh musuh yang sudah menanti baik kapal laut dan pesawat. Menurut penuturan Kolonel Laut Rony E Turangan, adalah Komodor Yos Sudarso yang dalam peristiwa itu menjabat sebagai Asops akhirnya mengambil tindakan untuk melakukan perlawanan kepada kapal-kapal Belanda itu demi menyelamatkan dua kapal lainnya karena memang misi sebenarnya sedari awal bukan tuk melakukan pertempuran, tetapi karena kondisi akhirnya Yos Sudarso mengambil inisiatif untuk melakukan perlawanan. Konon, KRI Macan Tutul yang dinahkodainya kemudian melakukan zig-zag agar dua kapal lainnya dapat lolos. Selain itu juga melakukan tembakan terus menerus tanpa henti, namun karena terkepung dengan 3 Destroyer Belanda yang jauh lebih mumpuni, akhirnya KRI Macan Tutul terkena torpedo bertubi-tubi hingga akhirnya tenggelam.
Kobarkan Semangat Pertempuran...
Melalui Radio Telefon, Yos Sudarso menyampaikan pesan tempur terakhirnya, “Kobarkan Semangat Pertempuran”, sesaat sebelum KRI Macan Tutul tenggelam. Sebuah pesan yang masih relevan hingga kini. Akhirnya Yos Sudarso beserta 25 awak kapal gugus sebagai kusuma bangsa. Diantara awak kapal yang gugur antara lain Kapten Memet dan Kapten Wiratno.
Sebab jasa dan heroisme Komodor Yos Sudarso lah akhirnya dua kapal lain terselamatkan dan korban jiwa bisa ditekan secara minimal. Jika amal sebab cinta tanah air saja bisa seheroik itu apatah lagi amal yang digerakkan oleh keimanan dan harapan pada Ilahi.
Yang kedua, adalah heroisme seorang pemuda yang digerakkan oleh semangat membara dari sebuah hadist. Bertahun-tahun lamanya tak teraih generasi sebelumnya. Menerbitkan gairah yang menyala untuk merealisasikannya, "Sungguh, Konstantinopel akan ditaklukkan oleh kalian. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya." (HR Ahmad)
Ekspedisi penyerangan yang dipimpinnya bukanlah ekspedisi yang biasa, ini adalah ekspedisi kerinduan selama 825 tahun lamanya. Maka setibanya dalam pengepungan Konstantinopel yang panjang lagi menghabiskan jiwa dan harta, ia dan pasukannya tak bergeming sekalipun serangan darat baik artileri dan jarak dekat tak mampu membongkar tembok kokoh lawan serta merangsek masuk; serangan laut nihil hasil karena bandingan kekuatan dan pengalaman yang amat jauh berbeda. Serta hasil pertempuran kecil di berbagai titik yang juga tak mereka menangi. Tursun Bey menceritakan bahwa: "kejadian itu mengakibatkan keputusasaan dan kekacauan diantara pasukan Muslim". Mehmed sang pemuda itu memahami bahwa satu-satunya cara untuk menaikkan moral pasukan yang paling baik adalah dengan pengalaman kemenangan dan dia harus menciptakan hal itu. Kata-kata dalam surat Syaikh Syamsuddin "sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya" terus menerus dia pikirkan. Moral pasukan harus diangkat dan kondisi perang harus dibalik. Hal itu hanya bisa dilakukan dengan cara yang fantastis. Tidak sekalipun dia ragu bahwa Konstantinopel akan takluk di tangannya. Oleh karena itu, ia hanya perlu memikirkan satu cara untuk membuat kejutan, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya, sesuatu yang akan membuat kondisi perang berubah dan menaikkan moral pasukannya. Apapun itu, apapun caranya, whatever it takes!
Di tengah-tengah diskusi antara para petinggi militer tentang bagaimana Teluk Tanduk bisa direbut, sedangkan rantai raksasa membentang pada pintu masuknya, tetiba sultan Mehmed akhirnya menengahi dengan sebuah solusi yang tak pernah terbayangkan oleh semua yang hadir, ucapan yang keluar dari lisannya sederhana namun memerlukan kekuatan dan tekad yang tak tergoyahkan. "Bila kita tak dapat memutuskan rantai itu, kita akan melewatinya". Melewati yang dimaksud Sultan adalah melewati rantai raksasa melalui jalur darat, ini berarti mengangkat kapal kapal dari Double Columns di Selat Bosphorus melewati daratan Galata menuju Valley of Springs di Teluk Tanduk Emas agar bisa mengatasi rantai raksasa.
Walaupun terdengar mustahil, tetapi tak seorang pun yang menganggapnya begitu. Karena mereka digerakkan cahaya iman hingga dada mereka bergejolak untuk segera melakukannya. Bukankah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga sering menggunakan element of surprise semacam ini. Hehehe...
"Itu adalah sebuah pencapaian yang menakjubkan dan strategi bermutu tinggi dari taktik pertempuran laut", puji Melissenos, seorang penulis Yunani. Keseluruhan operasi ini adalah sebuah karya agung. Yilmaz Oztuna di dalam bukunya Osmanli Tarihi menuliskan komentar seorang sejarawan Byzantium tentang peristiwa pengangkatan kapal-kapal Utsmani: “Kami tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar sebelumnya, sesuatu yang sangat luar biasa seperti ini. Muhammad al-Fatih telah mengubah bumi menjadi lautan dan dia menyeberangkan kapal-kapalnya dipuncak-puncak gunung sebagai pengganti gelombang-gelombang lautan. Sungguh kehebatannya jauh melebihi apa yang pernah dilakukan Alexander The Great.”
Tidak seorang pun yang melihat pemandangan saat itu kecuali akan timbul rasa ngeri dalam hatinya. Dari kejauhan, panji perang Rasulullah berwarna hitam dengan ukiran syahadat ditemani bendera merah hijau Utsmani dengan lambang bulan sabit berkibar-kibar megah. Ketika pasukan Konstantinopel mengarahkan pandangannya ke bawah bendera itu, nampaklah bagi mereka sebuah pekerjaan yang digerakkan oleh langit. Deretan kapal-kapal utsmani berjajar rapi di bukit Galata, beberapa sedang menaikinya dan yang lain telah turun dan berlabuh di Teluk Tanduk Emas. Mereka berteriak histeris, mencengkeram kepala mereka dengan tangan-tangan kaku dan mata mereka membelakak menyaksikan sihir militer Sultan Mehmed. Satu sama lain meminta agar saudaranya agar mencubit dirinya, berharap ini adalah mimpi buruk yang mereka akan segera bangun darinya. Ini lah titik balik yang membuat semangat optimisme kaum muslimin kembali membuncah untuk menang. Sultan Mehmed II yang muda itu juga dikenal sebagai Muhammad Al-Fatih
Baik Yos Sudarso dan Muhammad Al-Fatih, adalah jiwa-jiwa yang luar biasa dalam perjuangannya masing-masing. Lebih-lebih perjuangan untuk menolong agama Allah seperti halnya Muhammad Al Fatih. Sudahkah kawan-kawan memastikan tempat agar ikut dalam perjuangan? Atau yang lebih tinggi lagi yaitu menolong agama Allah?
Oleh:Erick Abdullah
Ketua PK IMM BIDANG HIKMAH
#PKIMMFAI
#SALAMFASKHO

BERKACA KEPEMIMPINAN DARI PERMATA ZAMAN

Bakda pelantikan lalu, kita sama-sama faham bahwa kedepannya amanah yang baru kan kita emban. Sebagai renungan, elok kiranya memerhatikan pesan permata zaman dalam soal teladan kepemimpinan. Generasi emas sekaligus awal dalam Islam misalnya, para Amirul mukminin. Amat jernih kata yang keluar dari lisan mereka hingga generasi setelahnya terus mendapat pelajaran dari gemilangnya kisah mereka.
Sungguh, orang yang jauh lebih mulia daripada kita semua, Abu Bakr Ash Shiddiq, pernah mengatakan, “Saya telah dipilih untuk memimpin kalian, padahal saya bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Kalau saya berlaku baik, bantulah saya. Dan kalau anda sekalian melihat saya salah, maka luruskanlah.”
Penting memulai kepemimpinan dengan kesadaran bahwa kita bukanlah orang terbaik kala ditunjuk sebagai pemimpin. Rasa ini akan menundukkan diri untuk tak jumawa, haus ilmu, lapar umpan balik, tidak anti kritik dan senantiasa meminta pertolongan untuk bisa tetap berlaku baik. Sang empu tak kan malu jika harus turun ke bawah untuk menampung tiap saran dan aspirasi dari orang yang Allah berikan ilmu padanya. Sebagaimana Abu Bakar yang menghormati ilmu yang ada pada 'Umar, yaitu tatkala Abu Bakar menulis surat ketetapan yang ditujukan pada penanggungjawab Baitul Maal, 'Umar ibn Al Khaththab, untuk memberikan kedua pemuka dari Fazarah & Tamim hak harta sebagaimana yang mereka terima tatkala masih bersama Rasulullah.
Menerima surat itu, 'Umar membaca sejenak, memandang kedua pemimpin itu dengan tajam, lalu merobek nawala ketetapan Abu Bakar itu menjadi serpihan kecil. Kedua pemimpin itu terkejut dan saling pandang tak mengerti. "Pergi kalian", ujar 'Umar keras, "Tak ada lagi bagian dari Baitul Maal ini yang menjadi hak kalian." Tergopoh menghadap kembali pada Abu Bakar, mereka menggugat, "Kami tak mengerti. Sebenarnya yang jadi Khalifah itu engkau atau 'Umar? Kau memutuskan dan 'Umar membatalkan bahkan merobeknya." Mendengar itu Abu Bakar tertawa renyah. "'Umar adalah Khalifah", ujar beliau, "Pada kapanpun dia mau." Demikianlah setelah Iman, dalam Islam, ilmu menempati kedudukan begitu tinggi. Oleh karenanya Abu Bakar begitu menghormati 'Umar. Apatah lagi kita yang amat jauh dari Abu Bakar, pasti lah lebih memerlukan sosok-sosok ikhlas yang dapat memberi nasihat berdasar ilmu.
Zaman telah memilih kita sebagai pemimpin, tapi...
Tapi sungguh orang yang jauh lebih perkasa daripada kita semua, ‘Umar ibn Al Khaththab, pernah mengatakan, “Seandainya tidaklah didorong oleh harapan bahwa saya akan menjadi orang yang terbaik di antara kalian dalam memimpin kalian, orang yang terkuat bagi kalian dalam melayani keperluan-keperluan kalian, dan orang yang paling teguh mengurusi urusan-urusan kalian, tidaklah saya sudi menerima jabatan ini. Sungguh berat bagi Umar, menunggu datangnya saat perhitungan.”
Selanjutnya, visi dalam berorganisasi menjadi sangat penting. 'Umar terdorong untuk menerima kepemimpinan karena memiliki keinginan yang menyala menjadi sebaik pemimpin, yang paling setia dalam melayani. Dan ini takkan terwujud manakala 'Umar sendiri tidak memiliki segudang konsep dan sistem. Lalu kejayaan demi kejayaan diraih hingga luas wilayah Islam seumpama 23 Negara, administrasi menjadi lebih rapi, pemerataan kesejahteraan, pemerintahan yang memanusiakan, bahkan paceklik luar biasa seperti Ramadhah pun bisa dilewati.
Sudahkah kita memiliki konsep berikut sistem?
Sebelum itu, kita perlu melakukan identifikasi lebih dulu tentang zaman yang kita tinggali sekarang, membaca apa tantangan zaman dan pekerjaan lanjutan dari kepemimpinan sebelumnya. Kemudian berlanjut kepada menempatkan ukuran-ukuran resiko; menempatkan alternatif; menganalisis setiap alternatif; memutuskan dan melaksanakan alternatif; mengontrolnya; serta mengevaluasinya.Ada yang perlu kita renungkan secara mendalam manakala beban amanah untuk mengisi intelektual mereka menjadi amanah dari kepemimpinan sebelumnya. Penulis mengatakan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari resiko kader yang keluar. Karena ini adalah dampak yang masih nampak dan masih bisa dilakukan antisipasi secepatnya. Tetapi takutlah kita pada dampak yang tak tertampak seperti tumpulnya kemampuan berpikir-analisa, senang dengan debat kusir, tidak menyenangi kultur diskusi, membaca dan menulis. Ada yang perlu kita renungkan kala memegang amanah ini.
Setiap zaman memiliki tantangan yang berbeda, maka sistem dan program zaman lalu bisa saja sangat tidak kompatibel dengan zaman ini.
'Umar lalu mencontohkan agar amanah diikuti kegentaran dalam hati, tentang beratnya tanggungjawab kelak ketika seluruh manusia ini berdiri di hadapan pengadilan Allah untuk menjadi penggugat dan kita adalah terdakwa tunggal bila tidak amanah, sedangkan entah ada atau tidak yang sudi jadi pembela.
Zaman telah memilih kita sebagai pemimpin, tapi...
Tapi orang yang jauh lebih dermawan daripada kita semua, ‘Utsman ibn ‘Affan, pernah mengatakan, “Ketahuilah bahwa kalian berhak menuntut aku mengenai tiga hal, selain kitab Allah dan Sunnah Nabi; yaitu agar aku mengikuti apa yang telah dilakukan oleh para pemimpin sebelumku dalam hal-hal yang telah kalian sepakati sebagai kebaikan, membuat kebiasaan baru yang lebih baik lagi layak bagi ahli kebajikan, dan mencegah diriku bertindak atas kalian, kecuali dalam hal-hal yang kalian sendiri menyebabkannya.”
Seperti ‘Utsman, jadilah kita pemimpin yang terbuka dengan masukan-masukan, mempertahankan serta menciptakan kultur yang baik. Jadilah kita sebagai pelaksana ungkapan yang amat dikenal di kalangan Nahdlatul ‘Ulama, “Al Muhafazhatu ‘Alal Qadimish Shalih, wal Akhdzu bil Jadidil Ashlah.. Memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik."
Zaman telah memilih kita sebagai pemimpin, tapi...
Tapi orang yang lebih zuhud daripada kita semua, ‘Ali ibn Abi Thalib, pernah mengatakan, “Barangsiapa mengangkat dirinya sebagai pemimpin, hendaknya dia mulai mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain. Dan hendaknya ia mendidik dirinya sendiri dengan cara memperbaiki tingkah lakunya sebelum mendidik orang lain dengan ucapan lisannya. Orang yang menjadi pendidik bagi dirinya sendiri lebih patut dihormati ketimbang yang mengajari orang lain.”
Saudaraku, hal yang paling hilang dari bangsa dan ikatan ini selama beberapa dasawarsa yang kita lalui adalah keteladanan para pemimpin. Adik-adik, kawan, bahkan lawan kita semua rindu pada perilaku-perilaku luhur terpuji yang mengiringi tingginya kedudukan. Kita tahu setiap manusia punya keterbatasan, tapi percayalah, satu tindakan adil seorang pemimpin bisa memberi rasa aman pada berjuta hati, satu ucapan jujur seorang pemimpin bisa memberi ketenangan pada berjuta jiwa, satu gaya hidup sederhana seorang pemimpin bisa menggerakkan berjuta manusia. Menjadi pemimpin berarti menempuh jalan ilmu. Mari mendidik diri lebih dalam lagi pada belajar, membaca, menulis dan berkarya.
Zaman telah memilih kita sebagai pemimpin, tapi...
Tapi sebagai penutup tulisan ini, mari mengenang ketika Khalifah dalam periode lain yang turut dinominasi sebagai amirul mukminin bersebab keadilannya, ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz meminta nasehat kepada Imam Hasan Al Bashri terkait amanah yang baru diembannya. Maka Sang Imam menulis sebuah surat ringkas. Pesan yang disampaikannya, ingin juga penulis sampaikan di sini, Bunyi nasehat itu adalah, “Amma bakdu. Durhakailah hawa nafsumu! Wassalam.”
#PKIMMFAI
#BIDANGHIKMAH
#SALAMFASKHO

HATIKU BERLABUH DI BAHASA ARAB

HAHHHH…? Bahasa Arabbb?
Apa aku TIDAK SALAH megambil jurusan Bahasa Arab?
Apa aku SALAH ngambil jurusan dalam Kuliyahku ini?
Gadis ini berdiri termenung di kampus lantai 3 sambil memandangi pemandangan dengan sorotan kosong. Otaknya pernuh dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Bahasa Arab.
”Ternyata belajar Bahasa Arab tidak semudah yang aku bayangkan. Di kelas aku harus bersaingin dengan teman-teman yang keluaran dari Pesantren bertahun-tahun, ada yang dari pesantren biasa sampai pesantren ternama. Mereka yang sudah bermodalkan mahir dalam berbicara bahasa arab sampai hafal beberapa kitab tentang NAHU SHOROF. Sedangkan aku hanya bermodalkan lulusan Aliyah yang hanya hafal Dhomir Huwa Huma Hum. Yah, jika dibilang.. aku amat tertinggal jauh dari mereka. Aku hanya memiliki semangat belajar untuk bisa berbahasa arab.
Kalian tahu kenapa aku memiliki semangat??
Karena hali ini…………………………
Satu hal yang membuatku memilih jurusan Bahasa Arab. Yaitu aku hanya ingin bisa Bahasa Arab untuk mempermudah memahami ayat-ayat suci Al-Qur’an. mempermudah menghafal Al-Qur’an dan mempermudah jalan untuk pergi ke Bumi Para Nabi. Yah, khususnya menjadi relawan di Palestina dan Rohingnya. Hanya itu, tidak lebih.
Dan satu hal juga yang aku tahu tentang Hadits Rosulullah mengenai Bahasa Arab, bahwa Bahasa Arab adalah bahasa Rosulullah (Suku Arab), Bahasa Al-Qur’an dan Bahasa Para Penghuni Surga. Karena itu aku amat tertarik dengan Bahasa Arab.
Setelah aku tadaburi juga, aku tersadar bahwa AKU adalah SEORANG MUSLIM, tentu untuk bisa Bahasa Arab adalah salah satu kewajiban bagi mereka yang beragama ISLAM. Karena jika mereka tidak bisa menguasai Bahasa Arab, lalu bagaimana bisa mereka MEMAHAMI Ayat-ayat Al-Qur’an? dan jika mereka tidak mempu memahami Ayat-ayat Al-Qur’an lalu bagaimana bisa mereka MENGAMALKAN semua yang ada di dalam Al-Qur’an? dan jika mereka tidak bisa mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an, bagaimana mungkin islam akan tetap BERJAYA di BUMIi ini? dan jika islam sudah tidak Berjaya lagi, lalu bagaimana mungkin KEBENARAN masih di pertahankan? Dan jika kebenaran sudah tidak di pertahankan lagi, maka bumi ini akan hancur, tidak ada lagi kedamaian, tidak ada lagi ketentraman.
Walau pun demikian sulit, tapi aku tak boleh menyerah. Karena apa? Karena ada sosok WANITA yang baru Hijrah di usianya yang ke 24 tahun, ia lulusan STM tapi ia berani mengambil Bahasa Arab yang sebelumnya tak ada beground arab sedikitpun. Dan ia mengaku bahwa baru kali ini ia mempunyai teman wanita, yaitu AKU. Yah.. aku adalah teman wanita pertamanya.
Aku menanyakan hal banyak tentangnya. Terutama tentang Bahasa Arab. Kenapa ia mengambil Bahasa Arab? Apa alasan ia mengambil Bahasa Arab? Dan apa yang kamu fikirkan tentang Bahasa Arab?
ARAB…ARAB…ARAB……
Gadis ini berkata, “sebelumnya aku tak pernah terfikirkan sedikitpun untuk kuliyah di bidang Bahasa Arab. Tapi akhirnya aku mengambil bahasa yang amat ASING bagiku. Kecuali tulisan Al-Qur’an yang jarang aku baca karena aku tak mengerti. Alasanku mengambil Bahasa Arab sebelumnya adalah karena aku di tantang oleh seseorang yang aku SUKAI. Dia orang Irak, namanya Ahmed. Dia mengajarkanku banyak hal, terutama tentang islam. Dan dia membimbingku dari yang sebelumnya kau tidak menutup aurat hingga saat ini aku menutup AURAT. Yang kedua aku pernah bermimpi tentang ayat Al Qur’an Surat Al-Kautsar. Dalam mimpi itu ada sesuatu yang amat aneh. Ntah apa yang terjadi. Setelah itu aku membuka Al-Qur’an. lalu ku perhatikan setiap hurufnya. Dan aku bertanya-tanya. Apa yang ku baca? Aku tidak mengerti sama sekali ISI Al-Qur’an ini. tapi kenapa kemarin aku melihat seseorang di MASJID sedang membaca Al-Qur’an sambil MENANGIS? Tapi aku? Ketika membaca Al-Qur’an kenapa tidak bisa menangis? Sekalipun aku membaca terjemah Al-Qur’an. dari situ aku luruskan NIATku untuk belajar Bahasa Arab, kamu tahu apa??? Yah.. hanya satu hal, yaitu ingin MENANGIS ketika membaca AL-QUR’AN.”
Dari sinilah aku belajar banyak hal dari kisah perjalanan hidup seseorang. Dan yang terpenting adalah Niat, Perjuangan, Kesungguhan, dan Cinta…
Bahasa Arab adalah jalanku menuju Cintaku.. yah.. Cinta Hakiki..
Dan lagi-lagi tak akan lepas dengan yang namanya MAKHLUK yaitu DAKWAH..
Seperti yang pernah di kutip oleh seorang Hamba Allah yang Luar Biasa Semangat dalam Dakwahnya..
Semoga Allah selalu Menjaga-Nya.

-Ummu Aiman

#PKIMMFAI
#KADERPKIMMFAI
#SALAMFASKHO