Jumat, 09 Juli 2021

Laki-Laki dan Perempuan Bisa Menjadi Korban Pelecehan Seksual

 Bismillahirrahmanirrahim

            Sama-sama telah kita ketahui bahwa belakangan ini marak sekali terjadinya pelecehan seksual dimana-mana. Baik itu di sekolah, kampus, bahkan lingkungan sekitar rumah kita.

Tahukah kalian, jika pelecehan seksual tidak hanya terjadi pada perempuan saja?

        Dan laki-laki tidak selalu berperan sebagai pelaku pelecehan, tapi juga bisa menjadi korban. Karena pelecehan seksual bisa terjadi pada laki-laki maupun perempuan. Namun, diantara kita masih banyak yang abai akan hal itu. Bahkan masih dianggap tabu jika menanggapi perihal laki-laki yang menjadi korban pelecehan seksual.

        Dalam kajian yang diadakan oleh Bidang IMMawati, PK IMM FAI UMT yang berjudul “Isu-isu Perempuan” dan menyongsong tema “Laki-laki dan Perempuan Bisa Menjadi Korban Pelecehan Seksual”. Dengan pemateri yakni IMMawan Akrim Lahasbi (Sekretaris Umum PK IMM ITB-AD Karawaci). Akan penulis sampaikan sesuai dengan materi yang diberikan.


Definisi Pelecehan Seksual

        Yang disebut dengan pelecehan seksual ialah perilaku pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang tidak diinginkan, termasuk permintaan untuk seks, baik secara verbal ataupun fisik yang merujuk pada konteks seks. (Wikipedia)


Bentuk-Bentuk Pelecehan Seksual

Bentuk-bentuk pelecehan seksual yang dilansir dari Komnas Perempuan sebagai berikut:

  • Perilaku menggoda : Suatu tindakan seksual yang menyinggung suatu yang tidak pantas dan tidak  diinginkan oleh korban.
  • Pelanggaran seksual : Tindakan pelanggaran seksual dengan menyentuh, merasakan atau meraih secara paksa serta melakukan penyerangan yang tidak diinginkan oleh korban.
  • Pelecehan gender : Pernyataan yang seksis atau menghina.
  • Pemaksaan seksual : Tindakan seksual yang disertai dengan ancaman hukuman.
  • Penyuapan seksual : Perilaku permintaan seksual dengan imbalan yang dilakukan secara terang-terangan atau secara tersembunyi.

Pelecehan (Laki-Laki dan Perempuan)?

        Kekerasan dan pelecehan seksual sering terjadi kepada perempuan dikarenakan system tata nilai yang mendudukkan perempuan sebagai makhluk yang lemah dan rendah disbanding laki-laki.

        Perempuan cenderung dimarjinalisasikan dan tersubordinasikan yang harus dikuasai oleh pelaku dalam konteks maskulinitas yang memandang perempuan sebagai second class citizens.

Pelecehan seksual karena beberapa faktor :

Factor kejiwaan

Lingkungan, dan

Pendidikan (pend seks)

Minimnya pengawasan

Ekonomi

Aspek Budaya yang semakin tergerus

Mengapa demikian perempuan?

        Sesat pikir yang dibangun oleh pelaku pelecehan terhadap suatu penampilan, aktivitas dan diri seorang perempuan menjadi segala apa yang ada yang menjadi target pelecehan.

        Tentu kita berpikir dan berbicara tentang pelecehan maka kita harus dialog tentang mental dan pikiran yang dikoreksi. Pelecehan seksual juga dapat menciderai mental batin dan fisik.

        Sama seperti pada konteks relasi, hal ini yang sering terjadi oleh laki-laki yang menganggap ia berkuasa sehungga perempuan menjadi targetman dalam tindakan pelecehan seksual.

        Mengapa demikian laki-laki? Dalam artikel kumparan oleh Yudi Sudiana ia menjelaskan bahwa pelecehan seksual yang dialami laki-laki karena stereotype masyarakat terhadap maskulitas.

        Dari stereotype inilah yang pada gilirannya menciptakan hubungan yang bias antara laki-laki dan perempuan, dimana hegemoni laki-laki atas perempuan hanya dianggap kodrati.

        Sempitnya pandangan tentang aspek pelecehan seksual terhadap laki-laki oleh masyarakat mengakibatkan korban enggan untuk Speak Up pelecehan yang dialami.

Aspek Hukum

        Aspek hukum memandang pelecehan seksual ialah segala perbuatan apabila telah melanggar kesopanan/kesusilaan, dapat termasuk sebagai perbuatan cabul. (Ratna KUHP)

Aspek sosial

        Pelecehan seksual dapat terjadi kepada siapa saja, selama ada kesempatan yang memungkinkan tindakan itu terjadi.

        Dalam aspek atau wilayah sosial memandang pelecehan sosial merupakan suatu tindakan yang tidak bisa ditoleransi ketika terjadi dalam ruang lingkup sosial yang memicu pelecehan bisa memungkinkan korban menjadi traumatik.

Aspek Relasi Kuasa

        Memandang laki-laki berkuasa atas perempuan karena sebuah ikatan sehingga sebebasnya melakukan tindakan seksual. Akan tetapi dikategorikan sebagai pelecehan seksual jika tindakan yang dilakukan diinginkan oleh korban.

Dampak Pelecehan Seksual

  • Dampak psikis (Memicu bunuh diri, ketidakpercayaan terhadap diri sendiri, menurunnya tingkat semangat dan disorientasi seksual)
  • Dampak sosial (Hilangnya kepercayaan sosial, menjadi hikikomori, menurunnya prestasi ataupun korban bisa menjadi pelaku kekerasan seksual)
  • Dampak fisik (Gangguan pola tidur, pola makan, imunitas menurun, rusaknya fisik, dan lain sebagainya serta traumatik pergaulan)


D.A.RVO: Strategi Pelaku Seksual Menyangkal dan Menyalahkan Korban

Apa itu D.A.RVO?

D.A.RVO adalah kependekan dari Deny, Attack and Reverse Victim and Offender.

        Mudahnya, ini adalah reaksi seorang ketika dimintai pertanggungjawaban atas kekerasan atau kejahatan yang dilakukannya.

        Menyangkal perbuatannya, menyerang orang yang mengatakan kalau ia bersalah serta mengubah narasi dan dirinya sebagai pelaku menjadikan dirinya korban adalah strategi yang biasanya dipakai oleh pelaku kekerasan seksual untuk memutarbalikkan keadaan.


D.A.RVO Sebagai Strategi Menyangkal

        Pelaku kekerassan seksual yang menggunakan D.A.RVO sebagai taktik komunikasi biasanya akan menyangkal kekerasan dan pelecehan yang dituduhkan kepadanya. Kemudian, ia akan mencoba mengeksternalisasikan kesalahan atau kejadian tersebut dengan cara menyalahkan korban, (kenapa mau?, kenapa pakai baju begitu?, kenapa tidak teriak?, kenapa tidak bilang “stop”?)

        Tentu tidak cukup sampai disitu, pelaku biasanya cenderung menyalahkan subtansi yang ia konsumsi, seperti minuman beralkohol atau obatan tertentu. Tak jarang pernyataan boys will be boys, cowok nakal itu wajar.

        Strategi D.A.RVO akan mendistorsi narasi korban dan membuatnya justru terlihat bersalah. Pelaku akan membuat dirinya seolah-olah menjadi korban pencemaran nama baik, fitnah, tuduhan palsu.


Mengapa D.A.RVO Sangat Berbahaya?

Bagi korban :

  • Pengakuan korban tidak dipercaya, diserang secara pribadi, mengalami victim blaming atau disalahkan, dianggap bertanggungjawab atas kekerasan yang alami.
  • Dianggap lebih abusive atau jahat dibandingkan pelaku karena dengan sengaja merusak nama baik, masa depan karier, dan menyabotase kontribusi pelaku untuk masyarakat.
  • Menerima beban ganda pembuktian kasus, trauma, menyalahkan diri sendiri, sulit bercerita dan melapor pihak berwajib karena kredibilitasnya dihancurkan pelaku.

Bagi pelaku :

  • Berhasil mengubah narasi, dianggap less responsible atau tidak perlu bertanggungjawab atas kekerasan atau pelecehan yang dilakukan, dipandang less abusive atau tidak bersalah.
  • Terbebas dari hukuman sosial, dianggap sebagai korban atas pencemaran nama baik, tetap memegang posisinya sebagai pemimpin, pemilik perusahaan, politisi, tokoh agama atau figur terkenal di masyarakat.

Bagi masyarakat :

  • Secara tidak langsung menjadi enabler atau pendukung kekerasan seksual di lingkungan kerja, tempat tinggal, lingkungan akademik dan film.
  • Terbiasa langsung menyalahkan korban dibandingkan skeptic pada pernyataan pelaku, ikut menjauhkan korban dari bantuan (hukum dan psikologis) yang ia butuhkan.
  • Memperkuat rape culture atau budaya pemerkosaan di masyarakat sekaligus secara kolektif membungkam korban untuk bersuara dan melaporkan kekerasan atau pelecehan.

Bagi usaha penghapusan kekerasan seksual :

  • Semakin sulit untuk membuat masyarakat percaya kepada korban atau pendamping korban karena pelaku memiliki kekuatan dan massa yang mendukung kekerasan atau pelecehan seksual.
  • Kekerasan atau pelecehan seksual terus diwajarkan, dianggap sepele padahal fenomena ini berakar kuat pada budaya patriarkis dan rape culture yang ada di masyarakat.

        Dan itulah penjelasan seputar materi kekerasan seksual khusunya tentang pelecehan seksual. Semoga dapat memberi manfaat untuk menambah pengetahuan pembaca, dan menjadi lebih waspada lagi untuk dapat saling melindungi supaya terhindar dari terjadinya pelecehan seksual di lingkungan manapun kita berada.


Sumber :

Jurnal Kekerasan Seksual

@_perempuan

Journal of Aggression, Maltreatment & Trauma : Deny, Attack and Reverse Victim and Offender. What is the influence on perceived perperator and victim credibilty

MK Manoylov on redanblack : Understand the danger of DARVO in discourse surrounding sexual assault.

Out of The fog Forum (outoftheforum.net) : How do you deal with DARVO?


Penulis :

Qotri Isnatunida (Ketua Bidang IMMawati PK IMM FAI 2020-2021)

Pemateri :

Akrim Lahasbi (Sekretaris Umum PK IMM ITB-AD Karawaci)


Kamis, 29 April 2021

Kajian Tarjih Muhammadiyah

Kajian Tarjih Muhammadiyah

"Apa Saja Sih Yang Harus Kita Persiapkan Menyambut Bulan Suci Ramadhan"


Hal yang perlu disiapkan dalam menyambut bulan Ramadhan :

1. Menyiapkan tempat ibadah

2. Menyiapkan sarana dan prasarana

3. Mengganti jadwal muadzin dan ceramah

4. Pengaturan shaf

5. Membentuk panitia zakat fitrah


Pengertian puasa secara bahasa adalah menahan diri dari sesuatu dan segala yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

dasar kewajiban :

Q.S. Al-Baqarah : 183 

artinya "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.'

Orang yang diwajibkan dan tidak diwajibkan berpuasa

yang diwajibkan berpuasa adalah orang yang sehat.

yang tidak diwajibkan berpuasa : wanita yang baru saja melahirkan, wanita haid.

yang diberi keringanan : orang yang sakit, musafir.

hal yang membatalkan puasa : makan dan minum

hal yang harus dijauhi saat puasa : berbicara kasar, berbohong, menipu.

amalan : mengerjakan qiyamul lail.

Minggu, 04 April 2021

Islam Terorist

      Terlepas dari konsep Barat yang pada akhirnya hanya untuk menuduh Islam sebagai agama teroris radikal, ternyata radikalisme menurut versi Barat ini, justru kebanyakan terlahir dari kalangan kaum kafir yang ingkar kepada Allah.

Bilamana terjadi seorang budak atau rakyat jelata, tiba-tiba ditemukan membunuh bangsawan yang terhormat, pasti dikarenakan ada faktor penyebab. Misalnya hal itu terjadi, maka kemungkinan besar dikarenakan si bangsawan korban pembunuhan, sebelumnya telah melakukan sesuatu yang menyinggung kehormatan atau keyakinan si pembunuh, atau lantaran si pembunuh telah terpropokasi oleh hasutan dari pihak tertentu. Sebut saja peristiwa budak Alwahsyi pembunuh Sayyidina Hamzah, ternyata ia membunuh karena propokasi dari Hindun, tuannya.


Dengan Hikmah

Jadi dalam pandangan penulis, tidak ada keterkaitan sama sekali antara Islam dan radikalisme. Adapun radikalisme dalam konsep Islam, pada dasarnya telah dirombak total oleh ayat wa jaahiduu fi sabilillahi bi amwaalikum wa anfusikum (berjihadlah kalian di jalan Allah dengan harta benda dan jiwa raga kalian). (QS: At-Taubah:41).

Dalam konsep jihad membela agama Allah, dalam Islam tidak lepas dari doktrin dakwah bil hikmati wal mau`idhatil hasanah (dengan hikmah dan nasehat yang baik) sekaligus penerapan doktrin aljannatu tahta dhilaalis suyuuf (Surga itu terletak pada bayang-bayang pedang). Maksudnya keikutsertaan berperang membunuh musuh Allah, termasuk salah satu tiket untuk masuk Surga.

Ternyata Rasulullah ﷺ tetap mendapat predikat sebagai seorang Nabi yang Rahmatan lil `alamin.

Jadi sifat rahmatan lil  `alamin tidak mencegah Rasulullah ﷺ untuk melaksanakan kewajiban nahi mungkar secara fisik, hal ini sebagai penyeimbang bagi amar ma`ruf dalam kelemahlembutan rahmatan lil alamin. Karena itu, tuduhan radikalisme yang akhir-akhir ini seringkali disematkan bagi eksistensi Islam atau umat Islam, tiada lain adalah upaya keji dan jahat yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam.

Tentu saja umat Islam tidak boleh tinggal diam atas framing ini. Umat Islam harus berani menolak dengan segala kemampuan yang dimiliki. Entah itu lewat tulisan, pernyataan sikap, video pendek, atau lewat apa saja yang dapat dilakukan dan memiliki simbul perlawanan terhadap kejahatan mereka.

Karena hakikat Islam itu sendiri, bukanlah pelaku radikalisme sebagaimana yang dituduhkan oleh kalangan barat serta kalangan Islamofobia.

Senin, 29 Juni 2020

Resume Kajian Keilmuan
Tanggal : Rabu, 24 Juni 2020
Tema :
إن واخواته

(Inna dan Saudara-saudaranya)

Fungsinya : Menasabkan isim inna merofa’kan khabar inna.

Penjelasan :

إِنَّ وَ أَخوَتُهاَ : إِنَّ, أَنَّ, كَأَنَّ, لَكِنَّ, لَيتَ, لَعَلّ

١.)     إنَّ
Inna artinya : Sesungguhnya
Fungsinya : Untuk penegasan huruf atau mengokohkan pembicaraan
Contoh :
إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ
Artinya : Sesungguhnya Allah atas setiap sesuatu Maha Kuasa
Kata qodir marfu’ dengan dhommah, dan kata Allah mansub dengan fathah.

٢.)  أَنَّ
Anna artinya : bahwa
Fungsinya : Untuk penegasan huruf atau mengokohkan pembicaraan.
Contoh :
 أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله
Artinya: Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

٣.)  كَأَنَّ
Kaanna artinya : seakan-akan
Fungsinya : penyerumpamaan
Contoh :
كَأَنَّ وَجْهَكَ بَدرٌ
Artinya : seakan-akan wajahmu itu bulan purnama.
٤.)   لَكِنَّ
Lakinna artinya : akan tetapi
Fungsinya : menyangkal
Contoh :
هُوَ عَالِمٌ لَكِنَّهُ غَيرُعَامِلٍ
Artinya : dia pandai tetapi tidak mengamalkan ilmunya.
٥.) لَعَلَّ
Laalla artinya: semoga/agar
(Angan" yang tidak mustahil)
Fungsinya : pengharapan
Contoh :
لعل زيد قلدم

٦.) لَيْتَ
Laita artinya : seandainya
Fungsinya : berangan-angan
Contoh :
لَيْتَ الشَّباَّ يَعُودُ يَوماً
Artinya : seandainya masa muda itu bisa kembali.

Contoh inna wa akhwatuha dalam Al-Qur’an:

• Surat Al-‘Ashr ayat
 إنَّالإنسان لفي خسر
- inna al-insaana la fii khusrin

Inna = sesungguhnya
Al-insaana = manusia (insan)
La = sungguh
Fii = dalam
Khusrin = kerugian.


Bidang Keilmuan 2019-2020

Resume  Kajian Bidang IMMawati

 : Emansipasi Wanita Ditinjau dari Syariat Islam




Pemateri Ayunda Nelis Nazziatus Sadiah Qosyasih

Gambaran sekilas tentang emansipasi, pengertian dan sejarah timbulnya :
Emansipasi berasal dari bahasa inggris “Emansipation” atau bahasa belanda “Emansipatie” yag arti harfiahnya: kemerdekaan, kebebasan. Jadi bisa diartikan kemerdekaan atau kebebasan wanita.
Gerakan ini dipelopori oleh seorang wanita bernama george send yang dengan demonstratif menentang apapun yang dinamakan prinsip moral, terutama apa yang dikenal dengan pemeliharaan terhadap kaum wanita. Berkat keayuan dan keelokan wajah dan bentuk tubuhnya. George send dapat menawan beberapa orang pria. Dalam tulisannya tentang perkawinan mengatakan: “aku tidak mau merubah pendirianku, dan aku tidak mau berdamai dengan masyarakat, bahwa perkawinan itu menurut pendapatku adalah suatu sistem sosial yang menyediakan dan lebih banyak kebiadabannya.
Pikiran inilah yang didemonstrasikan oleh george sand diatas. Salah seorang pria yang pernah menjadi korban george sand ialah alfred musse yang wasiatnya mengatakan: “kuharap kiranya george sand jangan menghadiri jenazahku”.
Tetapi jauh sebelum proklamasi emansipasi wanita, sejarah mencatat Islam telah lebih dahulu mengangkat derajat wanita yang dipelopori oleh Rasulullah (Nabi Muhammad SAW) yang megangkat derajat wanita. Pada zaman sebelum Nabi Muhammad diutus oleh Allah SWT kedunia, tanah arab berkecambuk kedurjanaan dan kebiadaban. Disitu ada kebiasaan mengubur bayi perempuan hidup-hidup yang disebabkan faktor psikologi orang tuanya terganggu yang merasa hina apabila mempunyai anak perempuan dan posisinya pun menjadi kelompok kelas dua, perempuan tugasnya hanya melayani lelaki dan harus siap kapanpun saat diperlukan dan pada zaman itu juga perempuan boleh menikah dengan laki-laki lebih dri satu (poliandri). Seorang perempuan boleh digauli oleh banyak laki-laki dan apabila sang perempuan sudah hamil, maka perempuan boleh memilih laki-laki mana yang menjadi ayah dari anak yang dilahirkannya. Kedudukan wanita pada waktu itu sangat merosot sekali dikalangan bangsa arab. Mereka dapat diwarisi seperti benda atau binatang ternak. (Abu Hasan Ali Al-Hasany An-Nadwi, 1989).
Setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai rasul, hal –hal tersebut dirubah dan diperbaiki. Hal itu dapat diketahui dari banyaknya dalil yang bersumber dari al-Qur’an dan hadis yang menyatakan tentang persamaan derajat perempuan dan laki-laki. Sebagai contoh Surah An- Nisa ayat 124 :
وَمَن يَعْمَلْ مِنَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُو۟لَٰٓئِكَ يَدْخُلُونَ ٱلْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا

Artinya: “ Barang siapa yang mengerjakan amal-amal shaleh, baik laki-laki maupun wanita, sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun,” (QS. An –nisa [4]; 124).
Dari ayat diatas, dapat diketahui bahwa Islam sudan mengangkat derajat perempuan setingkat dengan derajat laki-laki. Yang membedakan bukan dari sisi jenis kelamin maupun perempuan melainkan tingkat ketaqwaan mereka kepada Allah SWT.

Bagaimana Emansipasi dalam Perspektif Islam
Emansipasi dalam pandangan Islam prospek pelepasan wanita dari kedudukan sosial  ekonomi yang rendah, serta pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan maju. Semua sama dihadapan Allah, yang membedakan mereka yang paling bertaqwa, taqwa dalam artian menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.
Mengenai hak bagi kaum wanita tersebut Al-Qur’an surat An –Nisa telah menggariskan lebih lanjut :
“Dan janganlah kamu berangan –angan (hendak mendapatkatkan karunia) yang telah Allah lebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain, laki-laki mendapatkan bagian dari apa yang mereka kerjakan, dan bagi perempuan –perempuan akan mendapatkan juga bagian dari apa yang mereka kerjakan, tetapi mintalah dar Allah anugerah-Nya, sesungguhnya Allah Maha mengetahui tiap-tiap sesuatu”. (an-Nisa:32)
Dalam ayat diatas jelas sekali :
Bahwa wanita sama dengan pria dalam hal mendapatkan hasil usahanya, baik pahala dari Allah maupun penghasilan dari dunia.
Kaum wanita sebagaimana halnya pria, diperintahkan untuk beramal dan bekerja guna mendapatkan anugerah Allah itu. Siapa giat dan aktif, dijaminnya oleh Allah untuk diberinya kehidupan yang baik.
Dan oleh karnanya peradaban fitrah, maka tidak mungkin apa yang dikerjakan itu harus sama, sebagaimana yang telah diterangkan diatas, dan mustahil akan terjadi harmonisasi dalam hidu ini kalau lapangan pekerjaan dan dunia usaha manusia itu sama seleruhnya. Perbedaan lapangan itu sudah menjadi ciri dalam kehidupan.

Bagaiman mengaplikasikan dalam kehidupan sekarang ini (ciri-ciri/Kepribadian) :
Beriman, memohon bantuan, dan tawakal kepada Allah
Nilai-nilai luhur
Cara pandang yang jelas
Kenyakinan dan proyeksi positif
Selalu mancari jalan keluar dari berbagai masalah
Belajar dari masalah dan kesulitan
Tidak membiarkan masalah dan kesulitasn memegaruhi kehidupannya
Percaya diri, menyukai perubahan dan berani menghadapi tantangan
Hidup dengan cita-cita, perjuangan dan kesabaran
Pandai bergaul dan suka membantu orang lain.


-Bidang IMMawati 2019-2020

Senin, 04 Mei 2020

RAIN-DU
Apa yang paling dirindu selama kita berdiam dirumah? Jawabannya pasti bermacam-macam, ada yang rindu ke kampus, ke sekolah, ke sekre, ke Mall TC. Ada juga yang kangen buka puasa bareng teman kelas, teman organisasi, ngabuburit bersama keluarga atau bahkan mudik ke kampong halaman. Rindu itu semua? Ya saya juga.
Sejak dahulu rindu telah banyak jadi inspirasi kisah. Dari mulai Romeo dan Juliet, Laila dan Qais sampai dilan dan Milea.
Sebetulnya enak mana sih merindukan atau dirindukan? Idealnya dia yang kita rindukan juga merindukan kita. Merindukan tanpa dirindukan rasanya kok ngenes sekali ya? Seperti bertepuk sebelah tangan hehehe
Tapi kalao boleh pilih, saya memilih dirindukan. Tentu saja senang rasanya jika tahu ada yang merindukan kita.
Sebetulnya ada sekali yang merindukan kita, terlebih dalam kondisi pandemic covid-19 seperti saat ini. Dia yang sering kita lupakan saat kita sibuk urusan duniawi yang tiada habisnya. Dia terlupakan ketika kita asyik membusungkan dada, menegakkan kepala tanpa menoleh kebelakang. Untuk tujuan apa seperti itu.
Allah rindu pada kita. Dalam sebuah hadits dikatakan “Pergilah pada hambaku lalu timpakanlah berbagai ujian padanya karena Aku (Allah) ingin mendengarkan rintihannya” Allah sedang rindu pada rintihan hambanya yang dulu sering, sekarang sudah jarang. Jarang sekali kita mengingat-Nya dalam kesibukan dunia, bahkan tidak sama sekali. Maka disaat itulah Allah menunjukkan kerinduan-Nya lewat cobaan dan ujian maka inilah saatnya keimanan kita diuji, bukan dalam kumpulan masa dan kedekatan dalam melawan wabah, tetapi dalam doa-doa sunyi dirumah atau dihati masing-masing.
Tapi pernahkan terpikir saat kita dilanda musibah dan permasalahan, bahwa disitulah allah sedang merindukan kita, merindukan rintihan dan segala keluh kesah kita. Merindukan lirihnya untaian doa yang dibumbui air mata. Merindukan sujud hambanya yang dibumi supaya terdengar kelangit. Merindukan saat kita bersimpuh atas ketidakberdayaan di hadapan-Nya.
Tapi bukankah Allah berjanji bahwa setelah kesulitan akan ada kemudahan? Karena itu, saat Allah rindu kepada kita janganlah mengangap Allah sedang memberi kita ujian, tetapi anggap Allah sedang memberi nikmat.
Rain-du pasti berlalu, Allah sedang merindu kita semua.

Basith M Yusuf (Ketua Umum PK IMM FAI 2019-2020)
05-05-2020
Andai Aku

DUM DAR ! ! !, suara itu terus menggelegar di kupingku dulu hingga sekarang, suara yang kian memekakan telinga disaat aku mulai mengira mengira akan menjadi apa suatu saat nanti, disaat guru kecilku menanyakan cita – cita saat aku masih kecil, saat guru bertanya kepada seluruh murid salah satu temanku menjawab dengan lantang “aku ingin jadi polisi,pak” disaat guru memanggil nama ku “jalal, apa cita citamu?” suara dentuman itu keras memakakan telinga, semua kalap semua berseru panik segera keluar dari ruangan kelas dipandu oleh guru bahasa Indonesia yang saat sedang mengajar di kelas kami, suara itu berasal dari gedung sebelah sekolah kami gedung dimana orang tuaku bekerja.
Saat itu aku mulai berfikir tidak memiliki cita – cita, saat itu pula aku mulai tidak memiliki masa depan yang indah, tapi tuhan berkata lain, hari hari kujalani dengan penuh kesuraman namun itu tidak membuatku gentar barang sedikit, orang orang disekitar ku terutama guru bahasa Indonesia ku yang bernama ipul. pak ipul begitulah murid murid memanggilnya, guru yang tak pernah mengenal kata lelah untuk mengejar anak anak beraneka ragam sifat dan kebiasaan.
Hari pertama setelah kejadian itu, rumahku ramai oleh pelayat yang tau ayah dan ibuku menjadi korban kejadian itu, teman teman orangtuaku banyak memberi dukungan kepadaku agar tetap tabah, terutama sanak saudara yang mau menampungku di rumahnya, namun aku tetap ingin dikota ku, kota dimana aku lahir dan besar, kota dimana banyak kenangan antara aku dan orangtuaku kala itu. Ayah ku sering bilang kepada ku “seperti apa kau saat ini kau akan menjadi orang besar suatu saat nanti, kau dan tubuhmu, kau dan dirimu” cukup kata kata itu yang membuat ku tetap ingin disini.
Hari rabu yang cerah tetangga yang juga teman sekelasku saat ini, danu orang yang tinggal tepat sebelah rumah ku menjemputku dengan sepedahnya yang ia dapatkan saat ulang tahunnya setahun lalu, orang yang selalu menungguku pulih tiga hari yang lalu, saat tau aku siap kembali ke sekolah alangkah gembiranya dia, dia menjemputku saat aku sudah siap dengan seragam, aku mengunci rumah dan menaiki sepedah yang sudah kusiapkan di depan rumah, kami pun berangkat beriringan di jalan.
Saat itu aku masih duduk bangku kelas enam dan sebentar lagi aku akan menghadapi ujian akhir sekolah, danu semakin bersemangat untuk belajar dan mengajak ku, dia selalu menghampiriku ketika aku sedang berleha leha dirumah.
Tepatnya dua minggu sebelum ujian itu tiba, setelah aku pulang dari sekolah bersama danu aku melihat ada seorang lelaki dan seorang perempuan, ku perhatikan lebih seksama, ternyata itu adalah jaka dan zahra sepupu ku yang tinggal tak jauh dari sini, “hai jalal !” suara zahra yang khas ketika berteriak membuat ku melambaikan tangan dan berlari kecil menghampirinya, danu pun mengikutiku dari belakang, saling bersalaman, aku pun menyuruh mereka untuk masuk, dan danu pamit pulang untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
Kedatangan mereka untuk menemani ku selama menjelang ujian akhir sekolah, malamnya setelah mereka datang kami bertiga sedang duduk santai di teras depan rumah, hening, sunyi, hanya ada suara dedaunan yang ditiup angin, jangkrik jangkrik, dan katak, ķetika aku keluar membawa teh hangat untuk dinikmati di malam itu, “jalal !” suara jaka memutus keheningan malam itu, aku yang merasa terpanggil menoleh.
Jaka adalah pemuda yang berhasil lulus dari salah satu universitas di mesir dengan jalur beasiswa, dan adiknya zahra yang sekarang sedang berkuliah di salah satu universitas islam di indonesia yang selalu mendapat nilai baik jarak umur mereka denganku terbilang jauh, sekarang saja aku baru duduk di kelas 6 SD, tetapi jaka selalu memberiku motivasi sejak aku duduk di kelas 3 SD sehingga aku terbilang anak yang terlalu cepat dewasa, bagaimana tidak?, ayahku sendiri sering memberi ku motivasi agar aku bisa kuat dan tegar menghadapi kehidupan yang akan datang.
Tiga hari berlalu setelah kedatangan mereka di rumah ku, pertanyaan itu akhirnya dapat kusimpulkan namun belum bisa kujawab, pertanyaan yang sama seperti pak ipul kala itu, ketika kejadian yang hampir semua orang di kota ini tau dan mengingatnya, tapi sekarang pertanyaan itu butuh jawaban dan kepastian, aku hanya bingung bagaimana aku nanti, masih ada sebelas hari lagi sebelum ujian akhir sekolah, dan 17 hari lagi menuju hari kelulusan ku.
Hari berikutnya ketika di sekolah berangkat pagi seperti biasa bersama danu, hari ini ada materi tambahan untuk persiapan ujian akhir sekolah, pelajaran matematika, karna di ujian akhir sekolah nanti pelajaran matematika akan berisi materi dari kami kelas 3 SD, “jalal !” aku mendengar pak ipul memanggilku, aku berlari kecil untuk menemuinya, “jalal, sebentar lagi kau akan lulus dari sekolah ini, bapak harap kau bisa terbiasa dengan sekolah mu yang baru nanti” aku merunduk mendengar perkataan pak ipul tadi, “aku belum bisa memilih dimana aku akan sekolah nanti pak”, “bukankah sepupumu datang untuk menjemputmu dan akan membawamu ke pesantren dimaana ia dulu belajar?” tanya pak ipul yang membuat hatiku tambah bergetar, pak ipul menyadari aku enggan untuk sekolah di pesantren.
Aku pulang dengan membawa sebuah keputusan yang akan ku sampaikan kepada jaka, keputusan yang ku yakini akan membawa ku menjadi lebih baik, keputusan yang akan menggapai yang ku inginkan, keputusan yang akan membantuku menggapai yang andai -  andaikan.
Malamnya di temani danu aku beranikan membuka 7 dengan dua sepupuku yang datang beberapa hari lalu, “jaka” panggil ku, jaka menghampiri ku perlahan dan bertanya “ada apa jalal?” “Aku telah memtuskan, aku siap untuk masuk pesantren" wajah jalal tersenyum dengan gembira, zahra pun bersorak kegirangan, danu yang dari tadi memperhatikan tersenyum sambil melihatku.
Hari ujian pun tiba, setiap harinya hanya ada satu pelajaran, selama tiga hari, kekosongan setelah ujian kugunakan untuk persiapan masuk pesantren nanti, dengan belajar sedikit tentang pelajaran yang ada di pesantren dengan jalal.
Hari kelulusan tiba, jalal dan zahra datang untuk menemani ku di hari yang berbahagia itu, nama nama disebutkan, anak anak terlihat rapih dengan kemeja batik yang mereka gunakan, sambutan dari kepala sekolah, sambutan oleh pak ipul selaku wali kelas, dan guru guru lainnya, dan tiba akhirnya sambutan dari perwakilan alumni, aku maju sebagai orang yang ditunjuk saat itu,

aku berterimakasih dengan sangat kepada guru guruku, teman temanku, yang selalu mendukungku selama 6 tahun ini, banyak yang kita lalui pahit manis, getar getir hidup meski kita masih dalam masa pendewesaan tapi aku yakin kalian selalu bisa menjadi pribadi yang baik.
Pidato penutupku berakhir dengan tangis, dari kawan kawan dan guru guruku, kulihat jalal dan zahra yang menatapku sambil tersedu, penutupan acara tiba dengan perfotoan bersama.
Sepulang dari acara kelulusan aku, jalal dan zahra mengunjungi makam ibu dan ayah ku, kami berdo'a, dan aku mendekati batu lisan itu dan berbisik “ibu, ayah aku berhasil lulus dari ujian akhir sekolah, esok pagi hari aku akan berangkat ke pesantren, melanjutkan cita cita ayah, sebagai pendakwah yang baik” semua haru kala itu pecah dengan tangis .
Keesokan hari di pagi hari orang tua jalal dan zahra menjemputku, dan ternyata pak ipul juga datang untuk melepasku, semua barang sudag kusiapkan dari semalam, rumah yang kutinggali akan diurus oleh paman ku nanti setelah kepergianku, danu juga datang dengan membawa sebuah kotak yang kulihat ternyata itu sebuah al-qur'an, aku berterimakasih kepadanya atas segala kebaikannya selama ini, aku memeluknya.
Saatnya tiba aku berangkat dengan segala keputusan dan segala apa yang ingin ku gapai, dengan membawa segala kesedihan dan kegembiraan, aku merenung di dalam mobil akan seperti apa aku nanti di pesantren, tapi aku hanya memiliki satu tujuan saat ini, menjadi pribadi yang lebih baik.


_tamat_
Nama : Fauzan Azhiema
ID instagram : @azhiema
Email : Azhiemafauzan38@gmail.com
Alamat : jl.perdamaian rt003 rw 02, poris pelawad indah, cipondoh, kota tangerang, banten

Kamis, 30 April 2020

[Aku adalah buruh itu]




Aku adalah buruh itu
Satu dari semua pekerja
Yang bekerja untuk menghidupi keluarga
Tanpa memikirkan malu dan pilu

Aku adalah buruh itu
Berdiri tegak meski terpincang-pincang
Bekerja malam sampai siang
Demi mencukupi keluarga agar tak kelaparan

Aku adalah buruh itu
Keringat yang menetes di dada
Totalitas dalam bekerja
Bagaimanapun aku hidup dari sisa tenaga

Aku adalah buruh itu
Menyerahkan diri pada pabrik
Berharap ada sedikit lebih imbal balik
Meski kadang upah membuat hati tercabik

Aku adalah buruh itu
Menjerit yang tak pernah terdengar
Upah yang hanya sekedar ala kadar
Keuangan harus cukup terputar

Aku adalah buruh itu
Bekerja dengan ikhlas
Meski keringat harus terperas
Demi membeli seliter beras

Aku adalah buruh itu
Yang mengharapkan kesejahteraan
Demi keberlangsungan
Hidup yang aku jalankan

Aku adalah buruh itu
Kamu adalah buruh itu
Kita adalah buruh itu
Panjang umur perjuangan
Panjang umur hal-hal baik
Yang semoga tak terabaikan!!



SELAMAT HARI BURUH
1 MEI 2020
MayDay


[Siti Nur Afiah;  Kabid Medkom periode 2019-2020]

Rabu, 29 April 2020

Kopi bukan racun

Sejarah bermula, ketika ketidaksengajaan pengembala bernama Khalid, seorang Abyssinia ketika mengamati kawanan kambing gembalaannya yang tetap terjaga bahkan setelah matahari terbenam, setelah memakan sejenis buah beri.

Ia pun mencoba memasak dan memakannya. Kebiasaan ini kemudian terus berkembang dan menyebar ke berbagai negara di Afrika, namun metode penyajiannya masih menggunakan metode konvensional.

Barulah beberapa ratus tahun kemudian, biji kopi ini dibawa melewati laut merah dan tiba di Arab dengan metode penyajian yang lebih maju.

Bangsa Arab yang memiliki peradaban yang lebig maju dari pada bangsa Afrika saat itu, tidak hanya memasak biji kopi, tetapi juga direbus untuk mengambil sarinya.

Pada abad ke13, umat muslim banyak mengkonsumsi kopi sebagai minuman penambah energi saat beribadah dimalam hari.

Kepopuleran kopi pun turut meningkat seiring dengan penyebaran agama Islam pada saat itu hingga mencapai daerah Afrika Utara, Mediterania dan India. Biji kopi dibawa masuk pertama kali le Eropa secara resmi pada tahun 1615 oleh saudagar Venesia.

Ia mendapat pasokan bini kopi dari orang Turki, namun jumlah ini tidaklah mencukupi kebutuhan pasar. Oleh karena itu, bangsa eropa mulai membudidayakannya.

Akhirnya tersebarlah ke Asia, sehingga kita dapat menikmatinya disela-sela pekerjaan, seraya bercengkrama, ataupun mengisi kesendirian.

Namun sebelum itu kopi sempat dilarang dibeberapa negara. Pada tahun 1511, kopi pertama kali dilarang di Makkah karena para ulama menganggap bahwa kopi dapat merangsang pikiran-pikiran radikal.

Warga di Italia dan Turki juga sempat percaya bahwa kopi merupakan minuman yang menyesatkan. Bahkan pada abad 17, raja Murad IV dari dimasti ottoman menetapkan hukuman keras bagi warganya yang mengkonsumsi kopi.

Padahal kopi tidak mengandung racun, hanya saja mengandung kafein dan saat melakukan aktivitas, otak akan menjadi aktif dan melepaskan neuron-neuron yang memproduksi adenosine. Secara otomatis, sistem saraf anda akan memonitori kadar adenosine dan kafein tersebut.


Referensi:
-The World Atlas of Coffee: from Beans to Brewing (James Hoffman)
-Uncommon Grounds (Mark Pendergres)
-https://id.m.wikipedia.org/wiki/sejarah_kopi



Alby Maulana
KABID ORGANISASI PERIODE 2019-2020

Jumat, 24 April 2020

*Suri Tauladan, Pribadi Luar Biasa : Buya Hamka Kecil*

Dalam usaha menjadikan diri menjadi pribadi yang luar biasa tentunya kita memiliki sosok seseorang atau tokoh yang kita jadikan sebagai suri tauladan kita sebagai cerminan dalam usaha mengubah diri menjadi pribadi yang baik.
Siapa yang tak kenal Buya Hamka? Sosok tokoh yang sangat menginsipirasi bagi kaum pemuda Indonesia, yang namanya selalu dikenang dari karya-karya dan kebaikan-kebaikannya.

*Kisah Buya HAMKA kecil*

Belajar dari sosok Buya Hamka, beliau adalah seorang muslim hebat yang luar biasa yang imannya dan taqwanya hanya untuk Allah semata, sosok seorang muslim yang murah hati dan mudah memaafkan.

Buya HAMKA yang nama aslinya adalah Abdul Malik. Beliau dilahirkan di Desa Kampung Molek Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 anak dari seorang tokoh dan pelopor dalam gerakan pembaharuan (tajdid) yaitu Dr. Abdul Karim Amrullah.

Masa kecil Buya Hamka banyak dihabiskan di Maninjau di bawah asuhan ayah dan ibunya serta mendapatkan pendidikan keagaaman dari surau di Maninjau. Surau menjadi saran yang efektif sebagai pembentuk akal budi Buya Hamka sebagai “buku terbuka”.

Di masa kecil ia juga belajar berpidato di surau. Buku pertamanya, Khatibul Ummah, ditulis dari materi-materi khotbah teman-temannya yang ia catat dan ia rapikan. Waktu itu usianya masih belasan. Terlihat potensi menulisnya di usia ini. Ketika dewasa hingga wafatnya pada 24 juli 1981 dalam usia 73 tahun, buku-bukunya tidak terlepas dari pengalaman pertamanya tersebut.

Pada usia Buya Hamka 4 tahun orangtuanya pindah ke padang sehingga Buya Hamka dan kedua adiknya tinggal bersama neneknya. Dari neneknya Buya Hamka sering mendengarkan pantun-pantun yang merekam keindahan alam minangkabau. Bersama teman-teman sebaya Buya Hamka menghabiskan waktu bermain di Danau Maninjau. Mengikuti tradisi anak laki-laki di Minangkabau, Buya Hamka belajar mengaji di surau yang berada di sekitar tempat ia tinggal.

Pada usia 7 tahun Buya Hamka mulai belajar di Sekolah Desa. Sekolah desa yang lokasinya bekas tangsi militer di Guguk Malintang. Lingkungan yang kurang baik di lokasi tersebut membuat Buya Hamka menjadi anak yang nakal karena sering terlibat dalam perkelahian antara murid kedua sekolah. Hingga akhirnya Buya Hamka pun dimasukan ke sekolah diniyah, yang di ikutinya setiap sore setelah belajar di sekolah desa. Setelah melewatkan tiga tahun belajar, pendidikannya terbengkalai saat ayahnya membawa Buya Hamka pulang ke Sungai Batang. Kemudian, tahun 1918 Buya Hamka dimasukkan ke Sumatera Thawalib oleh ayahnya sehingga ia tidak dapat lagi mengikuti pelajaran di Sekolah Desa, Buya Hamka pun belajar di Sekolah Diniyah setiap pagi dan setiap sore ia belajar di Thawalib.

Saat usia Buya Hamka 12 tahun, Orang tuanya bercerai dan Buya Hamka dibawa oleh ayahnya tinggal di Padang Panjang. Hari pertama setelah perceraian, Buya Hamka tak masuk sekolah dan menghabiskan waktu bepergian keliling kampung.

Sejak kecil Buya Hamka sudah memiliki jiwa yang besar. Ketika berjalan di pasar ia melihat orang buta yang sedang meminta sedekah. Buya Hamka merasa iba sehingga menuntun dan membimbing peminta itu berjalan ke tempat keramaian untuk mendapatkan sedekah sampai mengantarkannya pulang. Namun, ibu tirinya memarahinya saat bertemu Buya Hamka di pasar pada hari berikutnya, “Apa yang awak lakukan itu memalukan ayahmu”. Dimarahi adalah salah satu hal yang tentunya tidak enak bagi seorang anak kecil.

Untuk bertemu dengan ibunya Buya Hamka pun pernah berjalan kaki menuju Maninjau yang jauhnya 40 km dari Padang Panjang untuk memenuhi kerinduan terhadap ibunya. Sehingga Buya Hamka meninggalkan sekolah selama 15 hari. Gurunya mengira Buya Hamka sakit kemudian datang ke rumah Buya Hamka dan menyampaikan ketidakhadirannya. Setelah ayahnya mengetahui bahwa Buya Hamka bolos. Ayahnya marah dan menampar Buya Hamka, tetapi segera memeluk dan meminta maaf kepada Buya Hamka.

Sejak kecil Buya Hamka sangat suka membaca buku sebab rasa ingin tahunya yang begitu besar. Setiap hari Buya Hamka datang ke Bibliotek tempat penyewaan buku milik Zainudin Labay El Yunusy. Karena hobinya yang begitu menyenangkan sampai ia kehabisan uang untuk menyewa buku, kemudian Buya Hamka pun menawarkan diri pada percetakan milik Bagindo Sinaro, tempat koleksi buku untuk bekerja disana. Ia membantu memotong karton, membuat adonan lem, sampai membuatkan kopi, tetapi sebagai upahnya, ia meminta agar diperbolehkan membaca koleksi buku yang akan disewakan tersebut.

Permasalahan keluarga membuat Buya Hamka sering berpergian jauh seorang diri. Ia meninggalkan kelasnya di Diniyah dan Thawalib, dan menempuh perjalanan ke Maninjau mengujungi ibunya. Namun, ia merasa tidak mendapat perhatian sejak ibunya menikah lagi dengan seorang saudagar Aceh. Buya Hamka di landa kebingungan untuk memilih tinggal dengan ibunya atau ayahnya.

Untuk mengobati hatinya, Buya Hamka bergaul dengan anak muda Maninjau. Ia pun turut belajar silat dan randai, tetapi yang disenanginya adalah mendengar kaba, kisah-kisah yang dinyanyikan bersama alat-alat musik tradisional Minangkabau. Ia berjalan lebih jauh sampai ke Bukittinggi dan Payakumbuh, juga sempat bergaul dengan penyabung ayam dan joki pacuan kuda. Seorang pamannya, Engku Muora, risau melihat Buya Hamka dan membawanya pergi mengaji kepada ulama Syekh Ibrahim Musa di Parabek, saat usia Buya Hamka 14 tahun untuk pertama kalinya ia hidup mandiri di Parabek.

Buya Hamka senang sekali mendengar pidato-pidato dari setiap penghulu. Dan kemudian Buya Hamka mulai mencatat sambil menghafal petikan-petikan pantun dan diksi pidato adat. Demi mendalami minatnya. Ia mendatangi beberapa penghulu untuk berguru pidato adat. Kecendrungannya ini kelak membuat keluarga ibunya mewariskan gelar pusaka yang sudah lama tak dipakai, yaitu Datuk Indomo Kepada Buya Hamka.

Secara umum, masa kecil Buya Hamka banyak dihabiskan dengan pembelajaran informal dari ayahnya serta para ulama. Ia tidak menamatkan pendidikan formal, tetapi pengetahuannya terus berkembang berkat semangat belajar autodidak dari berbagai tokoh. Buya Hamka kemudian mempelajari agama dan mendalami bahasa arab. Pengalaman belajar dari tokoh-tokoh terkenal, seperti Syekh Ahmad Rasyid, AR. Sutan Mansur, R.M. Suryopratono, dan Ki Bagus Hadikusumo selanjutnya membentuk corak pemikirannya yang terbuka, tetapi tetap membawa pembaruan.

Dari kisah Buya Hamka di atas mengajarkan kita, bahwa diri kita harus terus belajar dan memperkaya diri dengan pengetahuan. Dan menjadikan diri kita seseorang yang terus haus akan ilmu dan tidak puas dengan satu ilmu sehingga diri terus mencari tahu apa yang belum diketahui. Semangatnya dalam belajar sangat mengispirasi kita kaum pemuda untuk terus berusaha menjadikan diri di penuhi pengetahuan, dan tak mudah putus asa meski banyak ujian yang menerpa dalam kehidupan. Dan mengajarkan kita bahwa belajar dapat dimanapun dan dengan siapapun. Sebab tidak ada yang dapat mengubah diri kita menjadi lebih baik lagi selain diri kita sendiri.

Semoga bermanfaat


Alya Regina
(Sekretaris Umum PK IMM FAI Kota Tangerang Periode 2019-2020)

Referensi :
Syukur, Yanuardi dan Arlen Ara Guci. 2017. BUYA HAMKA :Memoar Perjalanan Hidup Sang Ulama. Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri

Selasa, 21 April 2020

*Habis Gelap Protes PLN*
Kita setara.
Kita semua setara, apalagi andil kita dalam berbuat baik. Total bertindak tanpa peduli jumlah like.
Jangan hitung apakah itu hal besar atau hal kecil, libatkan hati dan perasaanmu. Penjahat saja pamer aksi, masa niat baikmu malu???
Misalnya ajakan "ayo kurangin sampah plastik" atau "ayo hemat listrik" biar bumi kita tetap cantik. Mungkin ini bukanlah seruan yg nyentrik. Tapi masalah ini abadi dan klasik.
Cabut charger bila sudah tak dipakai. Matikan lampu disiang hari, buka jendal biar angin sepoy" kaya dipantai.
Tak perlu terlalu lama mengutuk gelap. Tak guna juga menyalakan lilin. Emang mau ngepet? Awas nanti ketangkap!
Yg perlu kita ketahui...
Lawan gelap dalam hati...
Nyalakan api, satukan nyali...
Atas apa yg kita perbuat dibumi...
Kita mau jawab apa nanti???





[Kabid Organisasi periode 2019-2020]
-Alby Maulana
[Ibu]


Ibu bilang;
Harus tetap berdiri walau satu kaki

Ntah, dorongan mana yang selalu menguatkan;
Hatinya.
Dalam binaran airmata
Yang berkaca-kaca
Tanpa keluhan meski lelah
Yang tetap sabar tanpa sadar
Selalu menjadi alasan;
Tempat berpulang kerumah adalah kenyamanan

Jongkok menghadap hau
Rambutnya dipenuhi debu
Menunggu air panas yang mendidih
Katanya; untuk masak air kopi
Menyuguhkan ku setiap pagi

Aku mengikat rambutnya;
Karena keringat membasahi pipinya
Ternyata; itu air mata yang mengalir
Ibu melihatku dalam senyum getir
Sambil gemetar
Memegang tanganku sambil berkata beberapa gelintir
Katanya; kita tak punya lauk untuk makan hari ini;
Selain nasi

Aku menangis bukan karena tak ada lauk
Menangis rasanya ingin memeluk
Aku bisa saja menahan lapar
Rasanya kata-kata ibu begitu menampar
Menampar diriku sendiri
Sebagai anak tak bisa berbuat apa-apa
Selain menyusahkan ibu, lagi-lagi

Ibu tak pernah menjadikan ku pecundang
Meski kadang aku lancang
Kata-katanya tak pernah menyakiti
Selalu hangat dan lembut
Untuk menasihati
Selalu hati-hati



[Kabid Medkom periode 2019-2020]
-Siti Nur Afiah

Sabtu, 04 Agustus 2018

RIBA

Bismillah

Definisi Riba

Riba ( الربا) secara bahasa bermakna: ziyadah ( زيادة – tambahan). Dalam pengertian lain, secara linguistik, riba juga berarti tumbuh dan membesar. Adapun menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil. Ada beberapa pendapat dalam menjelaskan riba, namun secara umum terdapat benang merah yang menegaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam-meminjam secara batil atau bertentangan dengan prinsip muamalah dalam Islam.

Firman Allah dalam QS. An-Nisa’: 29

يايها الذين امنوا لا تاكلوا اموالكم بينكم بالباطل الا ان تكون تجارة عن تراض منكم ولاتقتلوا انفسكم ان الله كان بكم رحيما

"Wahai orang-orang yang berimana! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dassar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu”

Dalil Tentang Larangan Riba

Larangan Riba dalam Al-Qur’an

QS. Ar-Rum: 39

وما اتيتم من ربا ليربوا في اموال الناس فلا يربوا عند الله وما اتيتم من زكوة تريدون وجه الله فاولإك هم المضعفون

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar harta manusia bertambah, maka tidak bertambah dalam pandangan Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk memperoleh keridhoan Allah, maka itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya)”

Riba yang seolah-olah sebagai perilaku tolong-menolong antar sesama manusia, agar harta manusia bertambah. Padahal dalam pandangan Allah  sesuatu itu tidak menjadi bertambah (pahalanya).

QS. An-Nisa: 160-161

فبظلم من الذين هادوا حرمنا عليهم طيبت احلت لهم وبصدهم عن سبيل الله كثيرا (160) واخذهم الربوا وقد نهواعنه
واكلهم اموال الناس بالباطل واعتدنا للكفرين منهم عذابا اليما (161)

“Karena kedzaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan bagi mereka makanan yang baiik-baik yang (dahulu) pernah dihalalkan; dan karena mereka sering menghalangi (orang lain) dari jalan Allah. (160)
Dan karena mereka menjalankan riba, padahal sungguh mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang dengan cara tidak sah (batil). Dan kami sediakan untuk orang-orang kafir diantara mereka azab yang pedih. (161)”

Ayat diatas mengandung ancaman kepada orang-oyang yang menjalankan riba, dengan balasan azab yang pedih.

QS. Ali Imran: 130

يايها الذين امنوا لا تاكلوا الربوا اضعافا مضعفة واتقوا الله لعلكم تفلحون (130)

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”

Diriwayatkan oleh Al-Firyabi dari Mujahid, dia berkata: Dulu, orang-orang terbiasa jual beli dengan sistem tempo. Jika telah jatuh tempo namun pembeli belum mampu membayarnya, maka si penjual akan menambahkan harga dengan memberikan tenggang waktu tambahan. Maka turunlah ayat tersebut.

Beliau juga meriwayatkan dari Atha’, dia menuturkan: pada masa jahiliyah, orang-orang sering memberi hutang kepada bani Nadhir. Jika telah jatuh tempo namun orang-orang bani Nadhir belum bisa melunasinya, maka mereka akan berkata, “Kami akan mengambil ribadari kalian, sekaligus penambahan tenggang waktu pembayarannya .” Maka turunlah ayat, yangartinya, “Wahai orang-orang yang beriman, Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali Imran [3]: 130)

QS. Al Baqarah: 278-279

يايها الذين امنوا اتقوا الله وذروامابقي من الربوا انكنتم مؤمنين (278) فانلمتفعلوا فأذنوا بحرب من الله ورسوله وانتبتم
فلكمرءوس اموالكم لا تظلمون ولا تظلمون (279)

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman.(278)
Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertaubat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan)”

Larangan Riba dalam Hadits

Diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudri bahwa Rasulullah saw, bersabda, “Emas hendaklah dibayar dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, tepung dengan tepung, kurma dengan kurma, garam dengan garam, bayaran harus dari tangan ke tangan (cash). Barangsiapa memberi tambahan atau meminta tambahan, sesungguhnya ia telah berurusan dengan riba. Penerima dan pemberi sama-sama bersalah.” (HR Muslim no. 2971, dalam kitab al-Masaqqah)

Diriwayatkan oleh Samurah bin Jundub bahwa Rasulullah saw, bersabda, “Malam tadi aku bermimpi, telah datang dua orang dan membawaku ke Tanah Suci. Dalam perjalanan, sampailah kami ke suatu sungai darah, dimana di dalamnya berdiri seorang laki-laki. Di pinggir sungai tersebut berdiri seorang laki-laki dengan batu di tangannya. Laki-laki yang ditengah sungai itu berusaha untuk keluar, tetapi laki-laki yang di pinggir sungai tadi melempari mulutnya dengan batu dan memaksanya kembali ke tempat asal. Aku bertanya, ‘Siapakah itu?’ Aku diberitahu bahwa laki-laki yang ditengah sungai itu ialah orang yang memakan riba.’” (HR Bukhari no. 6525, kitab at-Ta’bir)

Jabir berkata bahwa Rasulullah saw. mengutuk orang yang menerima riba, orang yang membayarnya, dan orang yang mencatatnya, dan dua orang saksinya, kemudian beliau bersabda, “Mereka itu semua sama.” (HR Muslim no. 2995, kitab al-Masaqqah)

Al Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi saw, bersabda “Riba itu mempunyai 73 pintu (tingkatan), yang palin rendah (dosanya) sama dengan seseorang yang melakukan zina dengan ibunya.”

Jenis-Jenis Riba
Riba Qard
Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berutang (muqtaridh).
Riba Jahiliyyah
Utang dibayar lebih dari pokoknya karena si peminjam tidak mampu membayar utangnya pada waktu yang ditetapkan.
Riba Fadl
Pertukaran antar barang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan itu termasuk dalam jenis barang ribawi.
Riba Nasi’ah
Penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya. Riba dalam nasi’ah muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dan yang diserahkan kemudian.

Jenis Barang Ribawi

Emas dan perak, baik itu dalam bentuk uang maupun dalam bentuk lainnya;
Bahan makanan pokok, seperti beras, gandum, dan jagung, serta bahan makanan tambahan, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan.

Fatwa Tentang Riba Di Indonesia

Majelis Tarjih Muhammadiyah
Majelis Tarjih telah mengambil keputusan mengenai hukum ekonomi/keuangan di luar Zakat, meliputi masalah perbankan (1968 dan 1972), keuangan secara umum (1976), dan koperasi simpan-pinjam (1989).
Majelis Tarjih Sidoarjo (1968) memutuskan:
Riba hukumnya haram dengan nash sharih Al-Qur’an dan As-Sunnah;
Bank dengan sistem riba hukumnya haram dan bank tanpa riba hukumnya halal;
Bunga yang diberikan oleh bank-bank milik negara kepada para nasabahnya atau sebaliknya yang selama ini berlak, termasuk perkara musytabihat;
Menyarankan kepada PP Muhammadiyah untuk mengusahakan terwujudnya konsepsi sistem perekonomian, khususnya lembaga perbankan, yang sesuai dengan kaidah Islam.

Dampak Riba
Beberapa Dampak Riba Pada Individu

Riba memberikan dampak negatif bagi akhlak dan jiwa pelakunya. Jika diperhatikan, maka kita akan menemukan bahwa mereka yang berinteraksi dengan riba adalah individu yang secara alami memiliki sifat kikir, dada yang sempit, berhati keras, menyembah harta, tamak kan kemewahan dunia dan sifat-sifat hina lainnya.
Riba merupakan akhlaq dan perbuatan musuh Allah, Yahudi. Allah ta’ala berfirman:
واذهم الربا وقد نهواعنه واكلهم اموال الناس بالباطل واعتدنا للكافرين منهم عذابا اليما
“Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang dari padanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil, Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir diantara mereka itu siksa yang pedih.” (QS. An Nisaa’: 161)
Riba merupakan akhlak kaum jahiliyah. Barang siapa yang melakukannya, maka sungguh dia telah menyamakan dirinya dengan mereka.
Pelaku (baca:pemakan) riba akan dibangkitkan pada hari kiamat kelak dalam keadaan seperti orang gila. Allah ta’ala berfirman:
"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 275)
Seseorang yang bergelut dan berinteraksi dengan riba berarti secara terang-terangan mengumumkan dirinya sebagai penentangAllah dan Rasul-Nya dan dirinya layak diperangi oleh Allah dan rasul-Nya. Allah ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Al-Baqarah: 278-279).”

Dampak Pada Ekonomi

Diantara dampak ekonomi riba adalah dampak inflatoir yang diakibatkan oleh bunga sebagai biaya uang. Hal tersebut disebabkan karena salah satu elemen dari penentuan harga adalah suku bunga. Semakin tinggi suku bunga, semakin tinggi juga harga yang akan ditetapkan pada suatu barang.

Dampak Bagi Sosial

Riba merupakan pendapatan yang didapat secara tidak adil. Para pengambil riba menggunakan uangnya untuk memerintahkan orang lain agar berusaha dan mengembalikan, misalnya, dua puluh lima persen lebih tinggi dari jumlah yang dipinjamkannya. Persoalannya, siapa yang bisa menjamin bahwa usaha yang dijalankan oleh orang itu nantinya mendapatkan keuntngan lebih dari dua puluh lima persen? Semua orang, apalagi yang beragama, tahu bahwa siapapun tidak bisa memastikan apa yang terjadi besok atau lusa. Siapa pun tahu bahwa berusaha memiliki dua kemungkinan: berhasil atau gagal. Dengan menetapkan riba, orang sudah memastikan bahwa usaha yang dikelola pasti untung.

Referensi:

Antonio, Muhammad Syafii. 2001. Bank Syariiah: Dari Teori Ke Praktik. Jakarta: Gema Insani Press

As-Suyuthi, Imam. Tahqiq: Syaikh Hafizh Syi’isya’. 2016. Asbabun Nuzul. terj. Muhammad Miftahul Huda. Solo: Insan Kamil

http://pengusahamuslim.com/1110-riba-dan-dampak-buruknya.html

Qur’an Hafalan Dan Terjemah. 2015. Jakarta: Almahira

-Risma Yunita
Ketua Bidang Hikmah
PK IMM FAI
Cabang Kota Tangerang
Periode 2017 - 2018

FEMINISME, DAN PANDANGANNYA DALAM ISLAM

Bismillah
Feminisme merupakan gerakan mengubah kedudukan perempuan untuk mendapatkan kesetaraan dan persamaan derajat dengan laki-laki. Gerakan feminisme ini berkembang pada abad pertengahan Eropa, yaitu pada abad 16-18 M.  Feminisme lahir karena adanya ketidakadilan dan penindasan terhadap kaum wanita. Misalnya dalam doktrin peradaban Yunani, menurut penuturan Prof Will Durant, “Di Roma, hanya kaum lelaki yang memiliki hak-hak di depan hukum pada masa awal negara republik. Lelaki saja yang berhak membeli, memiliki, atau menjual sesuatu atau membuat perjanjian bisnis. Bahkan mas kawin istrinya menjadi miliknya pribadi … Proses kelahiran menjadi suatu perkara yang mendebarkan di Roma. Jika anak yang dilahirkan dalam keadaan cacat atau berjenis kelamin perempuan, sang ayah diperbolehkan oleh adat untuk membunuhnya.” Itu salah satu contoh yang masalah yang dihadapi kaum wanita. Masih banyak diskriminasi, penindasan dan kekerasan yang dihadapi wanita di belahan dunia sana.
Nah persamaan gender yang seperti apa yang biasa digaungkan oleh kaum feminisme? Jadi feminisme itu mempunyai beberapa jenis, ada Feminisme Liberal (pengaruh dan kesetaraan perempuan untuk melakukan kegiatan politik seperti membuat kebijakan di sebuah Negara), Feminisme Radikal (yang disuarai olehnya adalah melawan kekerasan seksual dan industri pornografi), Feminisme post modern (ide yang anti absolut dan anti otoritas, gagalnya modernitas dan pemilahan secara berbeda-beda tiap fenomena sosial karena penentangannya pada penguniversalan pengetahuan ilmiah dan sejarah. Mereka berpendapat bahwa gender tidak bermakna identitas atau struktur sosial), Feminisme anarkis (paham politik yang mencita-citakan masyarakat sosialis dan menganggap negara dan sistem patriaki-dominasi lelaki adalah sumber permasalahan yang sesegera mungkin harus dihancurkan), Feminisme Marxis (negara bersifat kapitalisme yang menggunakan sistem perbudakan kaum wanita sebagai pekerja), Feminisme Sosialis (Sebuah faham yang berpendapat "Tak Ada Sosialisme tanpa Pembebasan Perempuan. Tak Ada Pembebasan Perempuan tanpa Sosialisme". Feminisme sosialis berjuang untuk menghapuskan sistem pemilikan), Feminisme Postkolonial (Pengalaman perempuan yang hidup di negara dunia ketiga (koloni/bekas koloni) berbeda dengan prempuan berlatar belakang dunia pertama. Perempuan dunia ketiga menanggung beban penindasan lebih berat karena selain mengalami pendindasan berbasis gender, mereka juga mengalami penindasan antar bangsa, suku, ras, dan agama), Feminisme Nordic (lebih menganalisis Feminisme bernegara atau politik dari praktik-praktik yeng bersifat mikro. Kaum ini menganggap bahwa kaum perempuan “harus berteman dengan negara” karena kekuatan atau hak politik dan sosial perempuan terjadi melalui negara yang didukung oleh kebijakan sosial negara).
Jadi Feminisme meyakini bahhwa wanita sama seperti pria, wanita memiliki kebebasan mutlak atas tubuh, diri, dan hidupnya. Wanita bebas memilih dalam memngelola kehidupan dan tubuhnya, baik di dalam maupun di luar rumah tangga. Salah satu budaya feminis barat yaitu seks bebas. Seperti dikatakan sebelumnya dia bebas atas dirinya. Padahal dengan memperlakukan dirinya seperti itu, akibatnya buruk untuk dirinya. Efek yg terjadi seperti kehamilan, aborsi, prostitusi, perceraian hingga single mother.
Ayunda Nelis pernah mengatakan, “mau tidak mau, suka tidak suka. Aktivis perempuan memang menyuarakan hal ini, tapi dengan presfektif yang berbeda. Bahwa presfektif tersebut adalah Al-Qur’an dan Hadist”. Jadi bagaimana Islam memandan gender?
Allah memberikan kesempatan yang sama bagi laki2 dan perempuan di dalam beribadah.

Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surat Az-Zariyat : 56, yg artinya
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia agar mereka beribadah kepada Ku”

Di hadapan Allah, yang membedakan manusia satu dengan yang lain adalah ketaqwaannya.

Firman Allah Ta’ala dalam Qur’an Surat Al-Hujuraat: 13 yg artinya
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.”

Perempuan dan laki-laki mempunyai kodratnya masing-masing. Salah satunya adalah wanita sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, sedang pria sebagai pemimpin dan pelindung keluarga. Peran sebagai ibu dijalankan sejak wanita hamil, melahirkan, menyusui, hingga masa pengasuhan dan pendidikan anak. Ibu adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya. Bagaimana kepribadian anak yang kelak terbentuk ketika dewasa, itulah hasil pendidikan ibu. Bahkan ibulah yang menyerahkan tanggung jawab pendidikan kepada pihak lain, karena sang ibu yang memilih pihak tersebut.
Peran sebagai pengatur rumah tangga dijalankan sejak wanita menikah. Sebagai pengatur di sini tidak sekadar mengatur keadaan fisik rumah tangganya, tetapi lebih besar lagi, yaitu mengatur agar siapapun dan aktivitas apapun yang ada dalam rumah tangganya senantiasa berjalan di atas jalan ketaqwaan.
Ringankah tanggung jawab itu? Tidak, tugas ini sangat berat. Karenanya Allah membebankan tugas kepemimpinan, pencarian nafkah, dan perlindungan kepada pria. Dari sini terlihat, pembedaan peran wanita dan pria dalam keluarga tidak bisa dianggap sebagai bentuk penindasan atas kaum wanita sebagaimana anggapan kaum feminis.

Dari pembagian peran dan tugas masing itu maka akan mendapatkan balasan yang setimpal. Sekecil apapun kebaikan yang dilakukan oleh wanita atau pria, akan mendapat pahala yang sama. Demikian juga dengan dosa. Oleh karena itu, baik pria atau wanita bebas berlomba-lomba dalam kebaikan. Mereka memiliki tanggung jawab yang sama dalam menyeru kebaikan dan mencegah kemunkaran.

Firman Allah dalam Qur’an Surat Al-Zalzalah ayat 7-8 yang artinya
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya”
Kaum feminisme menganggap bahwa kemuliaan wanita atau pria ditentukan oleh kesetaraan hak dan kewajiban, yang berarti tolok ukurnya adalah kuantitas aktivitas, bukan kualitas. Sehingga seorang wanita yang hanya berperan sebagai ibu rumah tangga dipandang kurang mulia dibandingkan dengan yang merangkap bekerja di luar rumah, tanpa kemudian membandingkan kualitas pelaksanaan masing-masing aktivitas.
Itu tidak berarti Islam melarang Muslimah beraktivitas di luar rumah, tetapi mengaturnya agar kehormatan wanita tetap terjaga. Ada bidang-bidang tertentu yang justru wajib dipegang oleh Muslimah, misalnya dokter spesialis kandungan dan kebidanan, perawat, bidan, atau guru. merujuk pada gerakan Ayahanda A. dahlan pada masanya yg sangat memberikan perhatian pada kaum wanita di masa itu, ayahahnda bertanya pada kaum wanita “kalian malu ndak? Kalu apa yg jadi aurat kalian dilihat laki-laki? Para wanita menjawab serentak “malu”. “Maka jadilah dokter bersalin untuk membantu para wanita lain dalam proses melahirkan. Supaya tidak ditangani laki-laki”
-Risma Yunita
Ketua Bidang Hikmah
PK IMM FAI
Cabang Kota Tangerang
Periode 2017-2018

Selasa, 13 Februari 2018

Tinggalkan Valentine Ramaikan Kajian

Santo Valentinus
nama yang familiar di 14 februari
hari dimana para kekasih menyatakan cintanya
menurut keagamaan romawi kuno

lalu bagaimana dengan kita sbg muslim?
Tinggalkan atau ikut merayakan?

miris...
remaja saat ini asyik berbondong bondong ikut merayakan
memberi coklat
memberi kartu ucapan
kpd sang kekasih
sbg tanda cinta dan kasih
dan kebanyakan dari mereka adalah islam
miris...

bukankah Tuhanmu Allah
Teladanmu Muhammad
Petunjuk hidupmu Qur'an dan hadist
tetapi
ikut ikutan masih saja kau jalani
hingga menjadi habits dalam hidup ini

_Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka_

Merayakannya
berarti telah menyerupainya.

teringat nasihat Buya Hamka : _Allah ciptakan 100 bahagian kasih sayang, 99 disimpan di sisiNya dan hanya 1 bahagian diturunkan di dunia. Dengan kasih sayang yang satu bahagiaan itulah makhluk saling berkasih sayang_

sejatinya hanya milik Allah lah kerajaan cinta yang Dia tebarkan pada hamba hambaNya.

Dear...
jelas hari valentine bukanlah ajaran islam
karena merupakan perayaan paganisme
lalu diadopsi menjadi ritual agama Nasrani

Dear...
cobalah tengok di sekeliling masjid mu
ramai majelis ilmu disana
walaupun minim orang
tapi keistiqomahan mereka
mengalahkan semuanya
beralihlah wahai muslim/ah
untuk Ramaikan Kajian
dan Tinggalkan Valentine

sekian terimakasih

Hanatul Afifah
Sekretaris Umum PK IMM FAI

Selasa, 30 Januari 2018

MAHAsiswa atau MASIHsiswa?

MAHAsiswa atau MASIHsiswa? Think Again!!!
Seperti apakah MAHAsiswa itu? Apakah harus selalu menentang semua kebijakan pemerintah? apakah harus selalu demo di depan gedung DPR atau istana negara? haruskah membakar ban lalu berdemontrasi hingga mengganggu pengguna jalan yang lain? apakah seorang intelektual atau cendikiawan? seorang berfikir kritis? seorang yang menyalurkan aspirasi-aspirasi rakyat? Well. The answer is yours (
Membahas mahasiswa memang selalu mengobok-ngobok isi kepala saya karena pembahasannya yang memang begitu kompleks. Pada intinya mahasiswa dikenal sebagai gerakan pengusung perubahan yang mempunyai status pembela rakyat dan memiliki semangat juang yang tinggi, dapat mengaktualisasi diri mereka sendiri sekaligus memberi manfaat kepada orang lain. Sebagai mahasiswa kita bukan lagi seperti siswa sekolah. Status kita adalah mahasiswa. Terdapat kata “MAHA”. Maha yang berarti tinggi atau agung, sebuah tanggung jawab besar bukan sekedar gaya-gayaan. Ya tugas ya waktu ya kesibukan semua serba MAHA, serba luar biasa, yang cara berpikir dan tingkah lakunya lebih baik dari siswa.
Dunia perkuliahan memang beda dengan dunia sekolah sebelumnya. Kaget memang, jadwal yang  tidak seteratur dulu. Di dunia perkuliahan tak ada batas untuk mengeksplorasi bakat dan berorganisasi dan tentu saja tidak ada toleransi dalam pemberian tugas maupun tanggung jawab. Kesibukan sebagai mahasiswa akan menuntut tubuh kita bekerja lebih ekstra dan otak berpikir lebih cepat dari biasanya. Dari nama saja sudah berbeda. kita sudah mahasiswa bung… bukan seorang siswa siswi lagi yang ada masalah langsung mengadu kepada orang tua, mengeluh waktu main terpotong oleh waktu belajar, lebih banyak tidur siang, tidak boleh tidur larut malam, bukan juga anak anak manja, yang sedikit-sedikit “duh malas kuliah” malas sih pasti ada, tapi bukan berarti setiap hari harus bilang “malas kuliah”, “capek” atau “Tugas banyak banget” ini baru tingkat awal, belum harus berkutat dengan skripsi, belum lagi jika mengikuti  organisasi, harus rapat yang tiada habisnya, yang mengharuskan pulang larut malam hingga menginap di kampus. Lelah. Bukan ? Wajar, seperti itulah mahasiswa. Menjadi mahasiswa berarti menjadi pelajar yang mandiri. Seorang yang harus haus terhadap bidang ilmu yang telah dipilih dan memahami ilmu jangan hanya dari satu sumber saja lalu berpuas diri. Teringat perkataan yang terlontar dari  ka Baikuni Al Shafa  beliau biasa dipanggil dengan sebutan ka Alsha yaitu salah satu pembicara DPD Jatim sewaktu saya mengikuti acara sekolah ideologi PK IMM FAI.
“Musuh kita dalam belajar adalah rasa puas diri, untuk belajar dengan sungguh sungguh kita harus mulai menyingkirkan rasa puas diri lalu sikap yang harus kita ambil, belajar dengan tak puas-puasnya dan terhadap orang lain mengajar dengan tak jemu-jemu”.
Saya lebih menghargai orang yang biasa-biasa saja tetapi selalu ingin belajar, dari pada orang pintar yang merasa dirinya sudah hebat. Jadilah pribadi yang haus akan ilmu. Pelajari semua hal disekelilingmu, pelajarilah semua hal yang kau sukai. Kecintaan mu akan ilmu akan menjadikan derajatmu lebih tinggi daripada orang orang yang tidak ingin belajar sama sekali.
Beberapa tips agar menjadi pribadi yang pintar, haus ilmu, dan berwawasan luas:
Biasakanlah membaca
Semua orang yang pintar adalah orang yang rajin membaca. Jadikanlah membaca bagian dari kebiasaan hidupmu, sediakan waktu sedikitnya satu jam dalam sehari untuk membaca.
Menganggap diri selalu “bodoh”
Orang yang merasa dirinya sudah pintar merasa tidak perlu belajar lagi. Jadilah orang yang merasa dirimu “bodoh” dan ingin lebih tahu dalam semua hal.
Bertanya dan bertanya
Jika ada sesuatu yang tidak diketahui, langsunglah bertanya kepada yang lebih tahu atau gali dari buku dan internet. Suapi otakmu dengan ilmu jika lapar.
Bergabung ke dalam komunitas
Bergabunglah kedalam komunitas kau akan bertemu dengan orang-orang yang bisa membuka wawasanmu lebih luas.
Dunia kampus adalah dunia yang menawarkan sejuta keindahan dan sejuta jalan untuk menggapai cita-cita, oleh karena itu selama menjadi mahasiswa, jadilah aktifis yang mampu mewarnai dunia kampus, ukirlah catatan-catatan prestasi dan berkaryalah dengan kreativitas-kreativitas unggul. Jangan menjadi mahasiswa KUPU-KUPU (kuliah pulang kuliah pulang) manfaatkan fasilitas kampus yang mampu mengasah kematangan berorganisasi. Sibukkan diri dengan hal-hal produktif, hingga tidak ada waktu untuk bersantai dan berleha-leha. Mari berkarya teman- teman ku. Ilmu yang kita dapatkan di bangku kuliah hanya 30% dalam skala teoritik, untuk menguasainya kita harus memaksimalkan 70% dalam segi praktik, wadah dan medianya adalah organisasi kemahasiswaan yang telah difasilitaskan oleh kampus, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya. Kemampuan akademik tidak selalu menunjang kesuksesan, tapi kemampuan dan penguasaan praktek membuat kita menjadi orang yang siap pakai. Jangan hiraukan jika ada rekan yang mengatakan sok jadi aktivis karena gemar berorganisasi, sok jadi kutu buku karena sering nongkrong di perpus, sok kritis karena sering debat di kelas. Tutup telinga keras-keras untuk bisikan negative tersebut. Buat apa kita takut pada sepuluh harimau yang giginya ompong daripada satu bayi yang bisa menggigit telinga kita hingga berdarah-darah, lakukan saja selagi yang kita lakukan bernilai positif, dan rasakan manfaatnnya. Mari berkarya dan menjadi insan mandiri yang produktif.
 

Kita   masih terhanyut dan masih asyik dengan status siswa kita. Belajarnya masih disuapin dan mengekor teman-teman kuliah. yang terjadi jika teman yang satu sudah mengerjakan tugas, maka yang lainnya cukup mengcopy atau menjiplak tanpa mau memodifikasi sedikit pun. Cukup diganti nama dan nomor mahasiswa lalu diserahkan kepada dosen pengampu, presentasi di kelaspun hanya sekedar membaca teks tanpa mau menjelaskan maksud dari teks tersebut. Sedihnya, mencontek pun masih menjadi budaya selama ujian. Tanpa rasa malu  terhadap kata “MAHA” dalam mahasiswa. Mau sampai kapan seperti ini ?
Kita ini punya adik adik. berilah contoh yang baik  sebagai panutan bukan dengan menceritakan lelahnya berkuliah tapi ceritakan perubahan apa yang kita dapat diperkuliahan. Bukan dengan mengeluh malas, mengeluh capek dan mengeluh banyak tugas. Lalu apa gunanya ada kata “Maha” didepan kata siswa ? kalau kerjaanmu masih sama dengan kerjaan para siswa. Tujuan berkuliah agar nanti mendapat pekerjaan dan menghasilkan uang. Sederhananya sih begitu. agar orang tua nanti hanya tinggal menikmati hasil kerja keras kita. Harapan orang tua agar anak nya lebih baik dari apa yang sudah terjadi pada mereka. Ingat. Bayangkan ayah dan ibu kita membiayai kita kuliah dengan kerja keras banting tulang. Lalu apa jadinya kalau kita hanya bisa mengeluh malas? Dear mahasiswa. Nikmati semua dunia perkuliahanmu karena akan bermanfaat untuk dunia mu selanjutnya setelah kamu menyelesaikan kuliahmu. Pilihan berada di tangan kalian yang bisa berfikir dan memilih dengan bijak. Saya hanya berharap kita mampu menaklukkan jalan panjang kita untuk masa depan. Sudah bukan saatnya mengeluh, mengeluh, dan mengeluh, duduk diam lalu mengoceh sendiri, bangun dan bangkit. Karena kita bukan lagi siswa tapi mahasiswa.
HIDUP MAHASISWA!

Linda Septiani
Bendahara Umum PK IMM FAI

Daftar Pustaka

A.k. Menjadi Pribadi Pemantas Hati, Jakarta: Kelompok Gramedia. 2015.
Pramula Beni. Mengukir Sejarah Merawat Peradaban, Jakarta: CV Mediatama Indonesia. 2016

Senin, 22 Januari 2018

Duh, Kader

Ditulis berdasarkan pengalaman pribadi, Menulis untuk refleksi diri, berbagi untuk peduli. Penulis juga termasuk kader manja. Sehingga yang ditulis pun bisa menjadi sarana muhasabah pribadi.
Perjalanan dakwah bukanlah perjalanan yang banyak ditaburi oleh kesenangan melainkan perjalanan panjang yang penuh tantangan dan rintangan.
Telah banyak kita dapati sejarah orang-orang terdahulu yang merasakan perjalanan dakwah ini. Ada yang disiksa, ada pula yang diusir dari kampung halamannya dan ada pula yang harus meninggalkan kerabatnya.
Mereka telah merasakan dan  membuktikan cinta dan kesetiaan mereka terhadap dakwah. Pengorbanan yang telah mereka berikan dalam perjalanan dakwah ini menjadi suri teladan bagi generasi sesudahnya. Karena kontribusi yang telah mereka berikan, maka dakwah ini tumbuh dan generasi berikutnya memanen hasilnya. Hanya kesetiaanlah yang dapat mempertahankan perjalanan dakwah ini. Kesetiaan yang menjadikan pemiliknya sabar dalam menghadapi ujian. Menjadikan mereka optimis menghadapi kesulitan dan siap berkorban. Kesetiaan yang menghantarkan untuk berada pada barisan terdepan dalam perjuangan ini. Kesetiaan yang membuat pelakunya berbahagia dan sangat menikmati beban hidupnya.
Sebaliknya orang-orang yang rentan jiwanya dalam perjuangan ini tidak akan dapat bertahan lama. Mereka mengeluh atas beratnya perjalanan yang mereka tempuh. Mereka pun menolak dengan berbagai macam alasan agar mereka diizinkan untuk tidak ikut hadir di dalamnya. Mereka pun berat hati berada dalam perjuangan ini, penyakit telah menyerang mental mereka, dan akhirnya berguguran satu persatu sebelum mereka sampai pada tujuan.
Perjuangan yang dirintis oleh orang-orang yang alim, diperjuangkan oleh orang-orang yang ikhlas, dimenangi oleh orang-orang pemberani, dan akhirnya dinikmati oleh para pengecut. Itulah realitasnya. Tak dipungkiri banyak para aktivis atau kader yang bermental buih, banyak tapi tak memiliki kekuatan apa-apa. Terbawa ombak, terombang-ambing dalam keraguan. Padahal peran-peran kosong menganga didepannya namun tak mau dan tak mampu dimanfaatkan.  Sehingga akan kehilangan momentum untuk berubah kearah yang lebih baik lagi.
Beginikah seorang kader?
Duh Kader,,,
Maunya di mengerti, tapi tak mau mengerti, Maunya diperhatikan, tapi tak mau memperhatikan, Maunya selalu mendapat, tapi enggan memberi, Maunya dihargai, tapi tak mau menghargai
Duh Kader,,,
Selalu enggan datang rapat. Kalaupun datang, ucapnya afwan “TELAT”. Merasa paling berkontribusi, tapi lupa diri. Bahwa yang diperbuat tak berarti. Datang acara, hanya event-event tertentu.  Masalah pribadi jadi masalah lembaga. Harusnya memikirkan umat, tapi sibuk masalah internal yang dibuat buat.
Duh Kader,,,
Ingin ini, ingin itu tapi tak mau bergerak. Hanya bisa berteriak, sampai suara serak.
Senangnya mengkritisi, tapi tak memberi solusi, Panjang lebar berdiskusi, tapi tak ada aksi. Inginnya selalu instan, ingin dapat jabatan , ingin terlihat mapan. Kalau tidak berhasil ya menjauh dari  perkumpulan.
Duh Kader,,,
Kajian-kajian dihadiri hanya sebisanya saja, banyak alasan ini dan itu, Padahal di sanalah menjadi bagian sarana utama “mengisi” diri. Ketika diajak diskusi atau kajian keilmuan maka ia menjadi orang yang malas atau berat untuk hadir. Jelas saja karena kini yang ada di kepala mungkin kebanyakan mereka hanya soal lawan jenis ikhwan dan akhwat.
Duh Kader,,,
Buku-buku referensi dakwah pun enggan di sentuh apalagi dibaca Alasannya berat, lantas bagaimana mungkin bisa menjalankan agenda agenda dakwah secara benar sedangkan tujuan, konsep  tentang dakwah itu sendiri belum jelas dimasing-masing kepala pengusungnya. Benar nyatanya yang bergerak hanya sebatas perasaan, insting yang tidak jelas kemana tujuannya. Para kader dakwah melaksanakan hanya sebatas tuntutan program kerja
Duh Kader,,,
Ketika diberi amanah dijalankan semaunya dan seadanya, dicari hanya yang sesuai kepentingan pribadi, mengambil hanya yang mudah-mudahnya saja, Sukanya merengek meminta istirahat, padahal dakwah tak pernah berhenti. Seringnya terkena virus muntaber (mundur tanpa berita). Sukanya dengan buku cinta-cintaan tanpa mengaplikasikan cinta kepada Allah, Rasulullah beserta keluarganya. Hanya cinta kepada lawan jenis saja yang dipikirkan.
Duh Kader,,,
Landasan mu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tapi...Apakabar dengan Al-Qur’an mu?
Apakabar dengan hafalan mu? Bagaimana bacaan Qur’an mu? Bagaimana  tulisan huruf demi huruf Qur’an mu? Tidak kah malu dengan anak balita yang hafal Qur’an?

Saya sedikit mengutip tulisan dari buku Quantum Tarbiyah yang di tulis oleh Solikhin Abu Izzzudin, bab bagian “Please deh jangan jadi kader muallaf”
“Barang siapa bersantai-santai saat bekerja, maka ia akan menyesal saat pembagian upah” (Abdullah Azzam).
Kader Muallaf? Memang ada? Ada. Kader muallaf yang perlu diurus. Bukan baru masuk islam atau baru ngaji, bukan! But, stok lama yang tak segera meng-upgrade diri. Sayang. Tilawah tak menggugah, bacaan tak bertambah, wajah kuyu tanpa gairah. Namun, kalau bicara nikah sangat bergairah tapi bicara dakwah ia ogah. Yah begitulah. Maaf bila saya bikin istilah kader muallaf. Ini terinspirasi oleh kondisi kader stok lama yang tak banyak berubah. Ia bukan orang baru namun seperti baru karena telat melulu.

Tapi kami masih sadar.
Kami seorang kader, yang mampu melakukan perubahan. Punya cita cita yang besar, cita cita yang mulia. Mengambil peran, maju paling depan.
Ketika teman-teman sebaya kami asyik membahas fashion-fashion terupdate. Kami sibuk menabung untuk membeli buku agar tidak kudet.
Ketika teman-teman sebaya kami asyik hangout di mall. Kami malah sibuk mendiskusikan bagaimana caranya agar nikmat islam ini dirasakan oleh semua masyarakat.
Ketika teman-teman sebaya kami asyik memikirkan besok kuliner dimana. Kami malah sibuk memikirkan bagaimana caranya duit terkumpul untuk ongkos agar bisa mengikuti agenda-agenda rapat selanjutnya.
Ketika teman-teman sebaya kami asyik menonton film barat. Kami malah sibuk memuroja’ah hafalan Qur’an.
Terkadang ingin rasanya cuti sebentar dari semua ini. Mengistirahatkan diri sejenak. Bermain-main, berfoya-foya, berhura-hura, kesana dan kesini. Ah, sungguh menyenangkan sekali. Tapi hidup ini lebih berarti dari itu. Hidup ini adalah perjuangan, dan berjuang tidak sebercanda itu. Lelah, lesu, letih tubuh ini di dalam perjalanan. Angin hujan merasuki badan. Namun jiwa harus terus bertahan. Karena perjalanan masih panjang. Tidak pernah ada karpet  merah, ucapan bunga, maupun  tepuk tangan.

Janganlah kita menjadi kader manja, kader yang tidak siap memikul beban, padahal tantangan dakwah semakin berat.
Janganlah menjadi kader manja yang serba tidak siap, serba tidak bisa disuruh apa saja, pokoknya ngga bisa, nggak mau titik!
Saudaraku, sekali lagi kukatakan bahwa sudah saatnya kita berpikir dan bertindak mencetak kader, bukan untuk diri kita semata, agar kebaikan tersebar sambung menyambung kepelosok-pelosok.
Jadilah pejuang dakwah, tidak sekedar penikmat dakwah yang hanya mengambil keuntungan dari dakwah atau hanya menikmati sendiri tarbiyah yang didapatkan.
Jadilah pejuang dakwah, Tidak sekedar memberi dukungan atau sepakat dengan dakwah tetapi ikut memperjuangkannnya.
Kita perlu evaluasi diri, apakah yang sudah kita berikan untuk dakwah? Apakah selama ini kita sekedar numpang nikmat hidup di bawah naungan tarbiyah, numpang keren bersama ikhwan dan akhwat fillah, numpang beken dan populer di jalan dakwah atau numpang aman cari posisi di dalamnya?  “ Setiap pekerjaan-pekerjaan besar hanyalah layak dikerjakan oleh orang-orang yang besar pula.” Kata Ust. Anis Matta.
Tak ada cerita lagi bahwa hanya ingin dikader namun sudah saatnya sekarang mengkader. Tidak lagi melulu diberikan suapan ilmu namun sudah saatnya menebarkan ilmu. Tidak lagi menunggu kemenangan namun sudah saatnya mencetak kemenangan. Karena jangan jadi sebagai orang pengecut yang hanya terdiam membisu digerbang peradaban menunggu para pahlawan datang membawa secercah kemenangan. Sudah saatnya jiwa-jiwa ini memberontak dari zona kenyamanan (comfort zone), terlepas dari rutinitas yang itu-itu saja. Lakukanlah breakthrough (terobosan). Agenda-agenda dakwah akan berjalan dengan baik manakala setiap dari mereka para pengusungnya memiliki semangat, Tidak bisa berjalan jika di isi oleh kader-kader manja, slenge’an.
Jangan sampai kita hanya menjadi penghambat dakwah. Bahkan lebih kasar hanya menjadi sampah saja yang menyebarkan bau tidak sedap dalam dakwah. Sebaliknya harus menjadi para penggerak. yang menyalakan cahaya, menghilangkan kegelapan.

Linda Septiani
Bendahara Umum PK IMM FAI

Senin, 20 November 2017

Rasa itu masih ada


Senja tak begitu cerah sore ini. Terkalahkan oleh keberadaan rintik hujan yang sedikit demi sedikit berhasil mengenai jalan. Orang-orang terlihat berlarian menuju tempat yang dapat menaunginya dari sang hujan. Memang tak begitu lebat, namun dapat membuat jas yang dikenakan seorang pegawai kantoran terlihat basah. Ditengah rintik hujan yang damai dan dibawah naungan halte bus yang hamper penuh, aku bergeming. Menatap setiap orangyang tengah berteduh satu atapdenganku. Tatapanku kini tertuju kepada seseorang pemuda jangkung berambut agak ikal. Terlihat dari baju yang ia kenakan, membuatku tersenyum karena waktu hamper petang anak SMA seperti dia belum juga melepas seragamnya, atau bahkan ia belum kembali kerumahnya. Itu semua mengingatkanku akan masa-masa silam yang begitu sulit dan terpaku dibenakku.
Aku hanyalah anak pinggiran yang besar dan tumbuh diantara para pekerja yang tak pernah dipedulikan oleh pemerintah. Bahkan mereka tak pernah sadar, bahwa gedung pemerintah, perusahaan-perusahaan, sampai rumah mereka sendiri pun tak akan pernah berdiri kokoh tanoa bantuan wargakecil seperti kami. Ya, bapakku seorang buruh kuli, sedangkan ibuku seorang pedagang kecil-kecilan. Aku sebagai anak sulung bertanggung jawab atas keberadaan dua orang adikku. Hidup yang apa adanya membuatku menjadi seseorang yang tahan banting. Membuatku menjadi manusia dewasa walau hanya mungkin lebih dewasa dari mereka yang kecukupan. Sampai sekarang satu wejangan yang memantapkan langkahku untuk terus berjuang masih terus kuingat.
“Gas… jangan takut bermimpi untuk jadi orang besar. Walau kau ini terlahir dari bibit orang kecil, tapi babpak yakin kamu ini bibit unggulan yang nantinya bakal jadi orang unggulan juga. Jadi apapun kamu nanti, jangan lupakan orang kecil Gas, karena kamu ini juga dari orang kecil”
Perkataan bapak dibawah rembulan itu bagai penyulut cahaya dalam hidupku. Mulai kutanamkan kuat-kuat dalam jiwaku, kelak aku akan menjadi orang besar. Ya Rabb… kuatkan azzamku ini dan ridhoilah di setiap langkahku.
***
Pagi itu sang surya begitu percaya diri menampakkan batang hidungnya. Awanpun tak mau kalah dengan penampilannya yang begitu menawan. Langit tampak begitu sempurna ditemani kepakan sayap burung yang tengah menikmati indahnya pagi ini. Aku bangga dengan diriku, tinggal selangkah lagi aku dapat menyandang almamater SMA terbaik didaerahku. SMA yang berhasil aku bobol dengan usaha dan sedikit kecerdasanku yang kuturuni dari bapak, ibu, kakek, atukah nenekku, aku tak tau. Yang pasti kali ini semua siswa kelas akhir sedang ricuh membicarakan rencana kedepan mereka. Rangga, teman baikku ingin masuk fakultas management-bisnis guna melanjutkan perusahaan ayahnya. Fikri, teman sebangkuku yang memang terkenal ahli IT ingin melanjutkan studi ipteknya di jepang. Aku bahagia, karena memiliki teman-teman hebat seperti seperti mereka . aku terdiam ketika giliranku yang harus berbagi rencana. Tak ada sedikitpun rasa untuk tidak kuliah. Aku hanya teringat kenanganku dengan adikku suatu malam.
“Mas, kamu ini kan sudah dari SMP ke SMA, terus habis SMA mau kemana?” tanyanya dengan kepolosan khas anak kecil.
“kuliahlah dik…”tukasku penuh keyakinan.
“kuliah??? Memangnya bapak punya uang buat mas kuliah?”
Degg… perkataan itu bagai anak panah yang menghujani hatiku. Bagai petir yang menyambar pikiranku. Sambaran yang berhasil membuatku sadar bahwa aku harus mendapatkan beasiswa. Karena hanya itu yang dapat membuatku terus melangkah dalam meraih ilmu yang kuinginkan. “Ya Izzati… berikanlah anugerahMU disetiap detik perjuanganku.”
Dengan keyakinan dan tekad yang kumiliki, serta usaha dan doá yang selalu kupinta padaNya. Akhirnya aku dapat menyandang status mahasiswa tanpa sepersen rupiah yang harus kukeluarkan. Dan seperti perjalanan kehidupan biasanya. Disinilah aku mulai mengenal rasa yang membuatku bimbang. Rasa tak berdaya didunia ini. Inilah cinta, ya… cinta. Cinta yang tanpa kuhendaki pada seseorang gadis berjilbab lebar nan anggun. Mahasiswi fakultas kedokteran itu mampu membiusku dari pandangannya yang teduh. Namun, walau tak sedikit kumbang yang terpikat oleh keindahannya, ia seolah bunga yang menatap rapat kelopaknya. Enggan berbagi keindahan yang ada. Sikapnya yang begitu cuek membuatnya terlihat berbeda dimata kaum adam, ak terkecuali dimataku. Bahkan dimataku, ia adalah sosok wanita sempurna nan solihah.
“sulit sekali menjadi pendampingnya kriterianya begitu tinggi, segi agama maupun materi pun harus memadai.” Kata seorang pengagumnya suatu saat. Nyaliku mulai ciut untuk mendapatkan hatinya. Karena aku sadar akan seberapa modal yang kumiiki. Walau sekuat tenaga aku menghilangkan rasa itu. Namun rasanya kian tumbuh dan kian membesar seiring seiring berjalannya waktu. Karena keputusasaan akan usaha penghilang rasa itu, akhirnya aku putuskan bahwa rasa ini biarlah terus berada dengan sendirinya. Walau tak pernah kuungkapkan padanya. Ia dapa mengetahui rasaku padanya sebagaimana perkataan salah satu temanku. Tapi sudahlah, biarlah rasa ini akan terus kubawa hingga penghujung perjalananku menjadi mahasiswa. Ya Muqollibal Qulub… andai kata taka da harapan lagi atas cintanya, hapuskanlah rasa ini dari hatiku. Namun andai ada harapan akan cintanya, jagalah rasa ini berada tetap dihatiku. Walau harapan-harapan itu hanya seperti tetesan embun dipagi hari.
***

Hujan mulai reda, malam hari kian larut. Satu persatu orang meniggalkan halte bus yang sempat aku kunjungi. Rembulan nan bintang tak tampak menghiasi langit malam. Hari terasa semakin gelap ketika kususuri jalan setapak yang sering kulalui hanya uuntuk sekedar melepas penat. Satu kebiasaan yang tak pernah kutinggalkan, karena bagiku jalanan malam menawarkan begitu banyak fantasi-fantasi kehidupan yang dapat menenangkan fikiran. Setenang hidupku kali ini. Lihatlah bapak, aku adalah anakmu, anak seorang buruh kuli. Lihatlah ibu, aku adalah anakmu anak seorang pedagang. Namun, kini aku yakin, senyuman kini telah menghiasi wajah mulia kalian. Wajah yang dulu selalu tersenyum ketika aku berdiri tegak meraih harapanmu. Wajah yang selalu menangis ketika aku tak berdaya. Tangan kalian, tangan yang selalu menghapus air mataku ketika aku menangis. Tangan yang selalu memberiku pelukan hangat ketika ku terjatuh. Namun terkadang aku mengutuk waktu karena terlalu cepat memisahkan kita. Bahkan aku mengutuk ruang yang telah membedakan kita diruang yang berbeda. Namun yang pasti… saksikanlah ayah…
Telah aku buktikan bahwa aku, bagas prayoga seorang anak buruh kuli, seorang anak pedagang telah menjadi generasi hebat dambaan umat, generasi penggugah semangat. Seorang motivator, penulis, sekaligus direktur yang terlahir dari Rahim orang kecil. Seseorang yang sukses dari keterbatasan. Kesuksesan yang berangkat dari mimpi, tekad, usaha do’a, dan keyakinan bahwa aku pasti bisa. Dan kini rasa itu masih ada…

~MUHAMMAD GHAZY RAZAN~
1 A PAI